The War of Myth versus Contemporary Science

Diawali dengan sebuah istilah eskatologi kita yang sedang bergaul dengan agama pasti akan dengan senang hati membahasnya. Mereka sebagai eksodus masa depan tidak seharusnya menjauhkan diri dari sebuah pemikiran yang berbau mitos tapi mendapat keberterimaan dari kalangan banyak. Tapi sebaliknya kita juga harus memberikan banyak tanggapan terhadap banyaknya ekstrapolasi yang berlebihan yang dilakukan oleh orang banyak. Tentang menguatnya paradigma dasar yang dipengaruhi oleh fakta social seperti eksultasi tentang hari-hari akhir melalui bacaan dangkal tentang ayat-ayat suci agamanya..

Salah satunya adalah kehidupan yang terlalu dimonopoli oleh kehadiran kata “SYURGA” lalu dengan segaja menjadikan diri terbuai oleh cara-cara hidup serba fanatic yang kemudian membatasi diri dari ranah kajian historis dan metode-metode penelitian mutakhir. Yang demikian inilah yang memberikan banyak intrapolasi kata-kata dangkal dan tak penting oleh manusia-manusia lain yang sebagiannya berada pada kerangka berfikir setengah-setengah berikut mereka yang tidak sama sekali berpikir tentang Dogma.

Sejak tahun 2007 lalu ada banyak penemuan yang memberikan kita keyakinan bahwa ajaran agama memang dapat dibuktikan, sayangnya pembuktian-pembuktian itu dihadirkan oleh mereka yang tidak mau mengakui adanya agama, lalu orang yang sedang senang dengan eksultasi-nya semakin aneh dan seolah mereka merasa telah menang dan telah habis masa untuk bergaul dengan keilmiahan ilmu.

Harus diingat bahwa, ada beberapa persoalan yang akan muncul kemudian yang mana itu dapat membalikan keadaan. Dari mana kita tahu bahwa bentuk Kereta Firaun yang pernah diceritakan dalam kitab suci Al-quran seperti apa yang ditemukan oleh arkeolog Amerika di dasar laut merah, menyusul penemuan kapal Nabi Nuh, lalu Piramida kuno di mesir, adalah memang seperti itu? Jawabannya justeru orang Islam tak mampu memberikan deskripisi mendalam tentang itu. Alhasil, potensi pengelabuan atau pembalikan konteks dan teks dikemudian waktu akan sangat mungkin terjadi. Hmm, jelas saja pada saat itu Dogma lalu dianggap sesat dan hanya epic yang tak bernyawa yang berbanding terbalik dengan ilmu ilmiah kontemporer.

Para arkeolog dari kalangan Islam mungkin sedang bingung bagaimana harus membangun sebuah pola, metode, prosedur, dan postulasi-postulasi penting agar mampu melahirkan kekuatan mitos dalam ranah kepercayaan beberapa manusia kontemporer yang haus akan jawaban rigid soal kehadiran dan kewibawaan cerita-cerita agama itu sendiri.

Jika kita masuk pada bagian arkeologi, tentu kita harus memberikan jawaban terhadap sebuah pertanyaan, “metode hitungan seperti apa yang dapat membuktikan sebuah kebenaran rigid? Foucault dalam buku Kajian Budaya karyanya Chris Barker  2001 memberi sebuah pernyataan aneh dan sangat mungkin untuk ditentang tapi juga sangat berpotensi untuk mencapai sebuah kebenaran. Kira-kira seperti ini, ketika sebuah wacana tentang sejarah mengalami kegagalan akan keberlanjutannya, maka kebingungan metode serta analisa tentang sebuah cerita mitos terhadap sebuah hasil temuan para peneliti dunia pasti menancap secara kuat, lalu pada akhirnya kajian akan penemuan itu tidak memberi jawaban tentang sesuatu apapun yang diharapkan oleh masyarakat mitos.

Terminologi oleh teologi terkadang sangat bertendensi fanatistik sehingga raptur-raptur social tidak pernah mau diperhatikan secara bijak serta penuh dengan hitungan-hitungan epistemology mendasar. Oleh karena itu bagi saya pribadi dan sahabat-sahabat yang mau memberikan tawaran-tawaran kalimat-kalimat tentang dogma yang memerlukan kekuatan diskursus secara berkelanjutan haruslah mengetahui sejauh mana raptur-raptur paradigma sosial telah membias, selanjutnya mengetahui akar-akar material dan immaterial yang menandai atau yang mampu memberikan kekuatan untuk bertolak ukur.

Saya berikan ilustrasi seperti ini; ketika sebuah motor yang dikendarai oleh seorang manusia dalam rentang waktu yang sangat lama tentu akan kehilangan identitas genuine-nya. Manakala warna motor itu berawal dari biru, hitam, dan warna-warna yang ada sejagad ini, maka gesekan energy matahari, udara, air dll akan mengaburkan kebenaran warna dasar motor itu. Nah, jika pemegang motor itu meninggal atau mati, selang beberapa waktu kemudian kita melihat motor itu parkir di depan mata kita, bagaimana kita membuktikan bahwa motor itu adalah motor yang pernah dikendarai oleh orang yang tadi telah tiada?

Ada banyak kemungkinan untuk membuktikan keaslian motor itu dalam kaitannya dengan si pemilik;  pertama, kita dapat melihat nomor pelat motor itu, kedua, mengecek nomor mesin, ketiga, mencari-cari symbol-simbol lain yang sama dengan apa yang pernah kita lihat, keeempat, menanyakan pengendara baru tentang asal-usul motor itu, atau mungkin dapat dicari tahu tentang dokumen-dokumen penting yang memberi keterangan-keterangan tentang ciri-ciri asli motor itu dan pemiliknya. Metode ini mungkin bisa kita katakan sebagai metode genealogi yang mana metode ini menitik beratkan ekskafasi terhadap sejarah tertentu, dengan bentuk-bentuk pertanyaan material dan institusi-institusi diskursus pencarian tertentu. Foucault memberi nama metode seperti ini sebagai, “The historical exploration of continuity and discontinuity discourse”

Cara pandang Foucault tentang genealogi mengingatkan kita pada pendekatan archaeology materialistic yang mana untuk mengetahui sebuah kebenaran historis, maka tim pencari musti meneropong bagian-bagian material dan praktek kerja terhadap diskusif itu sendiri. Sedangkan genealogi memperdalam perjalanan sejarah wacana dari waktu ke waktu secara spesifik serta membuang jauh-jauh atau mereduksi kepentingan kekuasaan di dalamnya.

Menurut saya, Foucault belum sempat masuk ke ranah teknik pencarian yang dikemukakan oleh banyak teologi di bumi yang mana di dalamnya terdapat banyak fakta yang sangat mudah dibiaskan oleh manusia itu sendiri. Dalam hal ini, arkeologi menjadi sangat lemah, sementara genealoginya masih menyisakan kelemahan yang begitu fundamental. Genealogi baru akan terlihat akurasinya ketika paket metode dalam dogma dapat dikembangkan.

Analisa: Pelat motor, nomor mesin, symbol-simbol dan lain-lain adalah sesuatu yang sangat mungkin diduplikasi oleh kehendak manusia. Selanjutnya, apa-apa yang ditanyakan dalam institusi pembuatan atau anggap saja kita menelusuri itu dari pihak perusahaan pembuat motor, maka hal tersebut akan memberikan kecurigaan serta benturan antara material duplikasi dan ungkapan-ungkapan yang terlontar dari institusi tersebut. Di sini kita dapat melihat bahwa kehendak manusia akan sangat berkuasa untuk me-rigid-kan sesuatu sekaligus dapat menjadikannya benar-benar Flasid. Untuk itu kita perlu mendapatkan konsep kejujuran dari setiap kata, gerak, serta konteks dalam wacana tertentu. Pertanyaannya, bagaimana metode pencarian kejujuran itu berhasil diperoleh dan tidak mendapatkan kecurigaan?

Ini dia yang menarik, ketika kita belajar konsep-konsep tentang teori dan praktek yang berhubungan erat dengan metode penelitian di jagad raya ini kita harus lebih hati-hati dalam membuat kesimpulan sehingga tidak mendapatkan kegagalan yang akhirnya melahirkan kritikal dan penumbangan teori beberapa decade terakhir ini. Sebut saja tumbangnya teori Darwin atau menjamurnya teori hermeneutic terhadap teks dan konteks yang sebenarnya merupakan bentuk kekecewaan terhadap praktek-praktek dogma yang ditunjukkan oleh beberapa orang yang tak mampu memberi pencerahan pasti terhadap mereka yang tidak pernah serius berdialog dengan teks-teks suci itu. Ane sebenarnya hendak menelurkan teknik menelaah kejujuran rigid manusia dengan tema the truth of human mind dalam tulisan ini. Tapi itu mungkin akan tersampaikan dalam buku yang mudah-mudah dapat diterbitkan dalam waktu dekat.

Akhirul qalam, kebenaran hanya ada dalam sebuah Rasa dan Kehendak, yang mana metodologi penelusurannya dapat kita telusuri dan kembangkan secara kuat dan padat seperti metode-metode yang digunakan oleh beberapa badan inteligen terkenal di beberapa Negara. Selain itu, hadirnya teknologi ternyata cukup kuat sebagai pembantu kita dalam melakukan pencarian.

 

Surakarta, 12 Juli 2011

 

Muslimin Magenda

Iklan

2 respons untuk ‘The War of Myth versus Contemporary Science

  1. can berkata:

    Gw g bsa coment ap2 yg jelas tulisanx mantap baget…………..!!!!
    Penelitian historis n sjenisx mmng mmrlkkan nilai kjjuran,krn tidak jrang peneliti mlkkan bnuh diri krn rendahx mental,sikap, serta nilai kejujuran…lanjutkan bos,,,hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s