Di Balik “Coup d’Etat” G 30 S PKI

Dirulis Suara Mandiri 30/09/11

Di Balik “Coup d’Etat” G 30 S PKI

Oleh; Wahyudinsyah

Menghargai sejarah adalah bagian dari nasionalisme yang harus kita tumbuhkan pada setiap generasi bangsa, agar dapat mengambil hikmah dari apa yang telah berlalu. Bukankah Nash Al-Qur’an sendiri adalah serentetan sejarah mulai dari Zaman Nabi Adam hingga utusan terakhir Allah SWT yakni Nabi Muhammad SAW. Sang Founding Father kita Bung Karno juga pernah berpidato dengan Judul Jasmerah (jangan melupakan sejarah).

Begitu pentingnya sejarah itu bagi bangsa dan peradaban, sampai-sampai para arkielog rela menghabiskan dana yang tidak sedikit hanya untuk menyelidiki sisa-sisa peningglan sejarah dengan mengglai tanah-tanah, menelusuri lorong-lorong goa dan menyelami lautan, demi untuk mencari bukti sejarah yang autentik dan dapat dipertanggung jawabkan sebagai seuatu kebenaran yang hakiki. G 30 S PKI bagi bangsa kita adalah suatu penggalan sejarah yang tidak akan terlupakan sampai kapanpun, karena sudah menjadi stereotip bahwa hari tersebut adalah hari yang merubah pandangan hidup dan falsafah bangsa, karena menjadikan PKI sebagai organisasi yang diharamkan ada di negeri ini.

Bila menyebut PKI, rakyat indonesia seakan-akan ngeri mendengarnya, takut akan di cap PKI, karena peristiwa kudeta yang dilakukannya berimbas pada tersisihnya segala sesuatu yang berhubungan dengan PKI dalam hak berpolitik atau bahkan bernegara. Saya tidak mengatakan PKI benar dan pemerintah salah namun ada penggalan sejarah yang terbongkar dari peristiwa tersebut yang melatar belakanginya. Pun juga tidak mengatakan bahwa PKI itu baik dan harus ada di Indonesia sampai saat ini, karena ideologi PKI (Komunis) tidak cukup membuat Korea Utara atau Myanmar menjadi negara yang adil dan makmur dan tidak juga dipandang sebelah mata keberhasilan China atau Venezuela, namun kita layak bercerita dengan fakta yang patut diperdebatkan.

Dalam buku setebal 832 “Membongkar Kegagalan CIA, Detasemen Amatiran Sebuah negara adidaya” sang pengarang TIM WEINER, membeberkan ratusan kebobrokan intelijen Amerika CIA (Central Intelligence Agency), sebuah dinas rahasia Amerika yang bekerja serampangan dan ceroboh dalam melaksanakan tugas intelijennya. Termasuk juga diantaranya kudeta G 30 S PKI yang dilakukan oleh PKI silam.

Dalam kata pengantar yang di tulis oleh Budiarto Shambazy dan dikutip langsung pada beberapa paragraf dibawah ini, kudeta tersebut tidaklah terlepas dari peran Amerika Serikat (AS) dengan CIA-nya. Karena AS telah mengkhawatirkan ancaman kominisme internasional sejak pecahnya Revolusi Rusia tahun 1917, Sejak awal pembentukan tugas utama CIA tidak lain adalah mencegah meluasnya komunisme intenasional ke pelbagai belahan dunia termasuk indonesia. (Tim Weiner – 2008).

Dalam periode 1945-1955 CIA sebagaimana halnya dinas intelijen Uni soviet dan China, giat mendekati berbagai kalangan di negeri ini. Skala operasi CIA belum terlalu besar dan lebih banyak difokuskan pada upaya Washington memperoleh akses untuk membangun pangkalan militer saja. Tetapi setelah Bung Karno menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrikadi Bandung 1955 muncul kekhawatiran Indonesia terseret dalam blok komunis. Dalam periode itulah CIA memulai operasi skala besar-besaran baik melalui cara overt (terbuka) maupun covert (tertutup).

Pada akhir dekade 1950 kesabaran Washington hilang saat berhadapan dengan Bung Karno yang di cap anti-AS. CIA lalu ditugasi untuk menyingkirkan presiden pertama itu dari kekuasaannya. Mulai dari membuat topeng yang mirip Soekarno dengan memerankan adegan film porno, menyuplai senjata untuk PRRI/Permesta di Sumatera dan Sulawesi namun dapat ditumpas Bung Karno, sebuah pesawat intai CIA yang di piloti Allen Pope ditemabk jatuh TNI, operasi rahasia yang terbongkar dan memelukan CIA dan memicu konflik diantara pemimpin AS awal 1960-an.

Direktur CIA Allen Dules kehabisan akal. Dubes AS di Jakarta Howard Jones meramalkan  Indonesia akan jatuh ketangan PKI, kesimpulan yang juga di tarik peneliti top di AS. Presiden John F Kennedy hingga Lyndon Johnson berusaha menarik Bung Karno dari radar Komunisme Internasional, hingga CIA mempertimbangkan untuk melancarkan pembunuhan politik terhadap Bung Karno. Disatu sisi Bung Karno mampu menyeimbangkan antara PKI dengan TNI-AD yang menjadikannya kekuatan politik yang independen dan Anti-Komunis. Menurut peneliti Center for Defense Information (AS) David Johnson peristiwa G 30 S PKI bertujuan menyelamatkan Indonesia dari komunisme yakni melenyapkan Bung Karno dan PKI sekaligus.

CIA memancing PKI mengambil tindakan yang mendiskreditkan mereka sendiri, jika mereka disalahkan, CIA memperkirakan TNI-AD akan mengambil tindakan absah dan cepat. Oleh karena itu perlu dicari alasan bagaimana cara agar PKI bisa dijadikan kambing hitam. CIA mengawali dengan isu tentang eksistensi Dewan Jenderal yang mau mengkudeta Bung Karno, karena berkembang aneka isu yang membuat iklim politik panas. CIA berharap timbul rasa saling curiga antara Bung Karno, TNI-AD dan PKI. Menurut artikel wartawan Wilfred Burchett yang diterbitkan November 1965 mengungkap hubungan Untung dengan PKI. Menurut dia para pemimpin PKI memiliki bukti mengenai rencana dewan jenderal, sementara versi resmi TNI-AD mengatakan dewan jenderal tidak pernah ada.

Makalah “Cornell Paper” mengungkapkan pelaku kudeta perwira menengah yang kecewa pada pimpinan TNI-AD. Teori lain mengatakan mereka jelas orang PKI. Analisis CIA terangkum dalam laporan berjudul “CIA Research Study, Indonesia-1965: the Coup That Backfired” membuktikan mereka bekerja untuk Bung Karno, sedangkan Johnson berpedapat Untung melancarkan aksi bagi “orang-orang tertentu” dikalangan pemerintah. Apapun itu menurut Johnson merupakan sukses sebuah operasi CIA. Saking suksesnya CIA memakai metode operasi ini untuk menunggangi Jenderal Augusto Pinochet menggulingkan pemerintah Chile yang dipimpin presiden Gustavo Allende yang pro-komunis tahun 1973 nama covert operation itu “Operasi Djakarta”.

Sayangnnya menurut buku hubungan luar negeri AS, ada beberapa dokumen penting yang belum boleh diungkapkan yang mungkin akan mengungkap lebih banyak lagi misteri G30SPKI. Larangan ini dibuat dengan alasan akan menguak tabir mengenai sumber-sumber dan metode intelijen secara jelas dan demonstratif akan membahayakan kepentingan nasional AS.

Selama tiga tahun terakhir sedikitnya ada tiga buku yang mencoba menguak tabir keterlibatan CIA dalam peristiwa G30SPKI. Pertama buku “Surrendering to symbols” karya Stig Aga Aanstad ilmuan Norwegia, kedua “Pretext for Mass Murder: the September 30th Movement & Suharto Coup d’etat in Indonesia” oleh John Roosa orang Indonesia asal AS dan ketiga “Sukarno and the Indonesian Coup: the Untold Story” karangan Helen-Louise Simpson Hunter pernah bekerja 20 tahun untuk CIA.

Kemustahilan merupakan ideolgi baku bagi setiap dinas Intelijen, termasuk CIA. CIA juga KGB maupun M16 merupakan dinas intelijen tersuksed dalam menjalankan operasi mereka di manca negara. Sekalipun dilanda krisis sampai saat ini karena kegagalannya mencegah serangan terorisme (9/11).

Banyak hal dari penggalan tulisan yang terurai sederhana diatas yang saya kutip langsung dari pengantar buku “Membongkar Kegagalan CIA, Detasemen Amatiran Sebuah negara adidaya” sang pengarang TIM WEINER. Bagi kita sebagai negara yang menjadi obyek atau korban politik global Amerika, tentu beragam tulisan wajib kita telaah dengan penuh teliti dan sangsi karena ini sensitif. Secara politik global sudah tentu kita mengetahui pertentangan ideologi adalah persoalan fundamental yang menyebabkan perang Dunia ke II dan tetap berdampak hingga sekarang.

Kedua kubu yakni Ideologi Komunis dan Kubu Ideologi Kapitalis saling berebut pengaruh satu sama lain diantara belahan dunia dengan masuk dan menerobos celah-celah meski dalam negara berdaulat. Ketegangan dan peperangan di berbagai negara akhir-akir ini tidak lain adalah tentang persoalan yang sama yang dialami oleh bangsa Indonesia saat peristiwa Kudeta 30 S PKI dahulu. Perang di Afganistan misalnya, itu tidak lain adalah kepentingan AS yang awalnya membantu geriliawan Afganistan untuk mengusir Rusia yang ber Ideologi Komunis, lalu ingin menancapkan kekuasaanya, namun setelah Rusia hengkang kenyataan tidak seperti yang diharapkan AS kemudian balik menyerang Afganistan.

Sebagai negara adidaya, tentu superioritas AS sangat mendominasi dunia karena keluar sebagai pemenang perang dunia ke II. Seluruh negara di intai dan diintervensi dengan cara biasa hingga luar biasa. Peringatan G 30 S PKI ini, selayaknya menjadi refleksi kita, bahwa dalam kehidupan bernegara, kita tidak akan pernah lepas dari dua kepentingan ideologi tersebut diatas, meski AS sendiri menyadari ada ideologi lama yang diam-diam mulai memberikan perlawanan terbuka yakni Islam yang diwakili oleh Iran. Hingga nampak, negara kita sebagai negara yang mayoritas berpenduduk Muslim terbesar di dunia menurut AS adalah ancaman baru, mengingat ideologi komunis di nusantara ini terkubur lama oleh stereotip kebengisan PKI dalam gerakan G 30 S PKI. Kepentingan nasional AS adalah segalanya, apa yang tidak rela dikorbankan oleh AS, jangankan ideologi Islam dengan mengorbankan ummat Islam, mengorbankan rakyatnya sendiri saja sah saja, karena tragedi WTC masih terdapat keraguan besar oleh ilmuan AS sendiri, apakah benar karena ditabrak kapal pembajak atau diledakkan sendiri oleh AS.

Peristiwa G 30 S PKI adalah proyek penghapusan ideologi komunis, akankah akan ada proyek G 30 S lain yang menghapuskan Ideologi Islam? Tentu tidak secara terbuka dapat mengintimidasi Ideologi Islam itu dalam tubuh dan jiwa rakyat Indonesia, akan tetapi nilai-nilai liberalis akan terus dijamah dan disebarkan kedalam kehidupan kita sehari-hari, mulai dari hal-hal yang paling  kecil seperti makanan ringan, pakaian, tontonan dalam televisi, cenderung konsumerisme, sampai pada pengerukan sumber daya alam, pembuatan peraturan perudang-undangan yang liberalis. Perundang-undangan kita sebagian besar adalah pesanan, cenderung liberalis-kapitalis karena kebanyakan hasil ratifikasi dari peraturan yang dikampanyekan AS, terlebih tentang perundang-undangan yang berhubungan dengan ekonomi, perusahaan dan permodalan yang terkesan menggadaikan bangsa ini pada pihak asing.

Yang pada akhirnya kita tidak sadar telah membudaya konsumerisme, sementara pendapatan tidak mampu memenuhi kebutuhan. Ini telah ada dalam kehidupan keluarga kecil rakyat Indonesai dari kota hingga ke desa, karena segalanya sudah di ukur lewat materi, yakni harta dan tahta. Propaganda yang luar biasa membunuh ribuan orang pasca gerakan 30 S PKI dengan senjata, namun sekarang ribuan orang terbunuh, terus terbunuh dan akan terbunuh karena menghalalkan segala cara demi memenuhi konsumerisme, dengan merampas hak-hak rakyat, korupsi, penyelewengan, yang akhirnya harus mengorbankan harga diri demi mendapatkan hak tersebut.

Penulis adalah, ketua BEM STIH 2008 , Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), anggota MJC, sedang mengikuti Pascasarjana F. Hukum UMS.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s