DPR menggonggong, takut atau kerasukan!?

Dirilis suara mandiri 07/10/11

DPR menggonggong, takut atau kerasukan!?

Oleh; Wahyudinsyah

Dengan suara lantang dan argumentasi yang meyakinkan anggota DPR kita merangkai kata-kata hanya di ujung bibir, tentu saja saya mengatakan itu hanya bersilat lidah belaka dan sebuah peran antagonis yang dapat dengan gampang masyarakat awam mengetahui maksud sebenar dibalik suara nyaring mereka, seakan-akan hendak menerkam dan melahap KPK mentah-mentah karena diusik keasiykannya selama ini menjadi celeng pembagi jatah hak rakyat setelah dirampas tanpa nurani.

Kata orang pintar, tahu aturan, yang sekolah hingga luar negeri alasan mereka hendak menerkam KPK adalah benar adanya, sebagai orang bodoh saya kira kita manggut saja. Meski bodoh, saya tentu ingin mengadu pada aparat penegak hukum jika ada orang lain yang merampas hak-hak saya dan menyelewengkan hak saya. Namun aparat penegak hukum (KPK) saya kira juga cukup pitar, karena tahu hak rakyat diselewengkan tanpa di suruh, dengan sigap mengganyangnya. Namun di luar dugaan, hendak di ganyang tentu anjing akan menyalak dahulu untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah anjing, meski kadang akan menerkam bila lawannya terlihat tidak sekuat harimau dan akan tiarap kalau lawannya memang bernyali harimau.

DPR berdalih bahwa pemanggilan KPK dalam kewenangannya sebagai pengawasan adalah bentuk perwakilan dari kostituen. Akan tetapi benarkah demikian? Sejak kapan rakyat melapor ke DPR kalau haknya di colong, bukankah rakyalah yang yakin bahwa pencolong uang rakyat berawal dari akal bulus DPR yang tidak kunjung bersyukur dengan limpahan fasilitas, gaji dan tunjangan yang tidak sedikit.

Sebenarnya rakyat hanya berharap semua fungsi negara berkerja sesuai harapan, namun apa lacur semuanya urung karena dipecundangi oleh oknum-oknum yang memamfaatkan kesempatan, yang pada akhirnya lahirlah lembaga independen yakni KPK. Makhluk yang paling banyak omong di dunia ini semua tahu yakni politisi. Ngoceh sana ngoceh sini ibarat orang nyayi lupa syairnya cuman ingat kuncinya kalau udah ketangkap KPK, Ia sering ngeyel, kadang-kadang ngambek, dan paling suka bandel, bahkan tak urung jadi penjahat, yang membuat mereka tidak lagi menjadi lembaga yang terhormat.

Selain itu mereka juga punya pekerjaan sampingan yang tidak nampak, yakni menjadi pelacur sekaligus mucikari angaran. Pekerjaan ini sangat tidak terhormat namun sangat dibutuhkan sebagai penyalur birahi sesaat para politisi, calo dan pejabat Pemprov/Pemda/Pemkot yang sedang gila akan dunia gemerlap potret hitam uforia demokrasi yang mendewakan kebebasan. Heran baget yah… kenapa dengan gampang sekali DPR mengatakan opininya, kepentingan golongannya, kepentingan perutnya atas nama rakyat? Kalau memang suara rakyat adalah suara tuhan, pantaskah suara para pelacur, suara para mucikari itu menjadi suara tuhan, sungguh nazis!

Tidakkah mereka merasa bahwa apa yang dipertontonkan dihadapan rakyat sangat memuakkan karena tak ubahnya anjing memperebutkan tulang, terlihat kelaparan meski semuanya gemuk. Kerjanya cuman omdo (omong doang), sudah berapa produk hukum yang di hasilkan, sudah berapa lembaga pemerintah dan kerja-kerja pemerintah berubah karena pengawasannya, sudah berapa evisiensi anggaran dan penyelamatan anggaran yang dicapai, menjadi pertanyaan sebagai tolak ukur keberhasilan. Bukankah mereka bagian dari bau busuk birokrasi kita, layaknya bunga bangkai yang terlihat indah memikat hati hanya untuk di pandang mata namun tetap saja baunya menyengat.

Pernahkan mereka memperdebatkan penderitaan rakyat hingga lehernya kelihatan berurat ketika kecelakaan kereta,  tabrakan bus, sesaknya penumpang kala lebaran, nasib buruh, rakyat miskin karena UU BPJS pun sampai sekarang belum berhasil diselesaikan. Rakyat terlantar, terabaikan, marjinal, menjadi babu di negeri orang demi menghidupi wakil rakyat dan pemerintah karena mereka merupakan penyumbang devisa langsung terbesar. Jeritan nenek tua di kolong jembatan, pekikan janda menggendong anaknya sambil menjajakan dagangan sayur yang sudah layu karena tidak mampu bersaing dengan super market.

Puluh dan keringat pengemis jalanan membasahi aspal, pengais sampah membangun hidup direruntuhan disamping gedung megah ibukota, terbakar badan pak tani dipanggang siang yang hanya berteduh terik sambil mengayuh pacul dengan tekad membelah bumi, nelayan pun bermandi lautan karena mengarungi samudra. Badan merekapun terkadang hanya berbungkus kulit karena tidak ada asupan giji, sakit-sakitan tidak dilayani rumah saakit karena bermodal kartu miskin dan memberi obat seadanya, sekolahpun hanya sampai SMA itupun dengan susah payah. Puluhan orang bunuh diri dengan meninggalkan pesan akibat himpitan ekonomi, anak-anak ditelantarkan, remaja tawuran, menjadi pelacur karena negara ingkar akan janji dan sumpahnya.

Padahal dari merekalah mereka di gaji, dari cucuran keringat rakyat dari lautan nelayan menjala uang, dari tanah rakyat mencangkul uang, dari isi dunia ratusan ribu rakyat Indonesia menggantungkan harapan pada kacung-kacung rakyat bermental penguasa dan menjajah rakyat, kita sekarang tidak lagi di jajah oleh negara koloni akan tetapi di jajah oleh warga negara kita sendiri, rakyat di peras dengan berbagai macam upeti (pajak dan retribusi ) namun tidak dapat menikmatinya secara lansung ataupun tidak langsung. Jalan raya tidak nyaman, transportasi tidak aman, pelayanan publik penuh dengan suap, rakyat tidak mampu makin tidak terlayani. Inilah yang dikatakan soekarno neo-kolonialisme dan neo-imperialisme dalam pidatonya “Indonesia Menggugat” yang dibukukan dan mampu menggetarkan dunia. Imperialisme bukan saja sistem atau nafsu menaklukkan negeri dan bangsa lain, tapi imperialisme bisa juga hawa nafsu atau sistem mempengaruhi ekonomi negeri dan bangsa lain! ia tidak usah dijalankan dengan pedang atau bedil atau meriam atau kapal perang tidak usah berupa perluasan negeri-daerah dengan kekerasan senjata…tapi ia bisa juga berjalan hanya denga “putar lidah” atau cara “halus-halus” saja, bisa juga berjalan dengan penetration pacifiq, (Soekarno 1983-15).

Menyerang KPK dengan alasan kewenangan, membuat kita risih. Pernyataan klasik yang selalu di jadikan alibi adalah biaya yang dikeluarkan untuk KPK tidak sebanding dengan apa yang diperoleh dari prestasi KPK selama ini. Bagaimana KPK memiliki prestasi yang sebanding dengan ongkos, sebab koruptor kakap belum di garap. Toh dengan memeriksa banggar saja sudah pengen di bubarkan, selama perjalanan KPK tidak pernah luput dari serangan balik Mafia, namun ekspektasi publik begitu besar hingga semuanya dapat dilewati satu persatu.

Orang-orang KPK adalah orang-orang pilihan, yang memiliki integritas dan kemampuan mumpuni, dan juga pandai memainkan politik namun tidak berpartai politik. Sudah tentu segalanya butuh proses, karena negara penuh mafia, tidak mungkin dilakukan pembenahan secara frontal atau revolusi. Tentu ada upaya dan langkah-langkah yang sistematis. Paling tidak ada tiga politik KPK yang sudah sedang dan tengah berlangsung.

Pertama di kenal, sebagai barang yang ingin di kenal tentu langkah awal adalah promosi, digawangi Taufiqurrahman Ruki memang hanya memberikan kesan, dengan sesekali menangkap mafia, namun yang utama tetap melaksanakan fungsi utama KPK yakni monitoring, penindakan, pencegahan, koordinasi, supervisi. keliahatannya berjalan normatif dan apa adanya, disamping membentuk sistem, karena langkah awal adalah membuka jalan tentu semak-semaklah yang pertama di bersihkan untuk membuat jalan setapak.

Kedua dihormati, mulai menunjukkan kualitas dengan bekerja independen dan membuktikan tidak dapat diintervensi oleh apapun dengan melakukann penetrasi sebagai gebrakan-gebrakan dan mulai mencoba mennggerogoti lebih dalam markas mafia di bawah pimpinan Antasari, dan langsung di tendang balik dengan kriminalisasi beberapa pimpinan KPK hingga terpenjaranya Antasari. Publik memberikan apresiasi penuh pada KPK karena integritasnya, diantaranya memenjarakan aulia pohan yang nota bene besan SBY. Jalan sudah mulai diperlebar untuk memberi ruang gerak bagi sistem telah di buat.

Ketiga di segani, setelah semua proses penghadangan dan rintangan yang sengaja dibuat oleh para mafia, kini mulai unjuk gigi untuk membabat habis semua mafia itu. nah pertanyaan publik selama ini termasuk lembaga DPR tentang hasil kinerja KPK dengan biaya mahal ingin ditunjukkan sekarang. Ditunjukkan bahwa apa yang menjadi harapan publik ingin segera diwujudkan dengan kepemimpinan Busyro, memamfaatkan kewenagan superbody oleh orang-orang yang menambakan perubahan dan menjanjikan pengabdian karena hidupnya ingin membuat sejarah dan menjadi bagian dari sejarah yang fenomenal, karena akan merubah peradaban korup mafia menjadi berkemanusiaan yang adil dan beradab.

Nama baik, reputasi dan kinerja yang makin dipercaya publik membuat lembaga ini menjadi “super Body”, semua elemen berada di balik KPK, mulai civil society, LSM, Mahasiswa, purnawirawan, hingga tokoh lintas agama menjadi suporter setia dan penambah spirit bahwa di balik KPK-lah harapan itu ada. Ini membuktikan segala komponen bersatu padu memberikan mandat pada KPK untuk meng-ganyang koruptor. Masih ada secercah harapan untuk kehidupan yang terus berubah meski sejuta permasalahan bangsa belum dapat disesaikan. Tidak salah, ini adalah kesempatan untuk bersih-bersih dengan cara apapun asal tidak melanggar Undang-Undang. Sebelum semuanya kebakaran jenggot, alangkah baiknya kita mengaku dosa agar dianggap gratifikasi.

Penulis. Wahyudinsyah. Ketua BEM STIH 2008, Angkatan Muda Muhammadiyah

(AMM), anggota MJC. Mahasiswa F,Hukum Pascasarjana UMS.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s