Agama Diperdagangankan Ustadz

Dirilis Harian Bima Ekspres 09-10/11/11

Agama Diperdagangankan Ustadz

Oleh; Wahyudinsyah

Dalam kurung waktu beberapa tahun terakhir, fenomena ustadz masuk dalam ranah dunia entertaiment tidaklah menjadi hal yang tabu bahkan sudah menjadi trend. Esensi ustadz adalah menjadi pawang, panutan, contoh suri tauladan, diimani dan diamini kata-katanya oleh para jamaah, ummat, makmum, pengikut atau apapun labelitas yang pantas kita sebut bagi orang-orang yang mendengarkan ceramah dan tausiyahnya. Sebagai penyampai pesan tuhan, apa yang diucapkan adalah sesuatu yang sakral, penyambung wahyu  tuhan yang diterima nabi, dengan kemasan yang mudah di cerna oleh seluruh kalangan. Diamanpun dia berdiri menginjakkan kakinya dan menyampaikan dakwah, ia akan di terima oleh siapapun, mengingat firman tuhan diturunkan untuk rahmat sekalian alam.

Ustadz Jadi Artis.

Berbagai media berita infotaiment yang menyuguhkan gosip atau rumor yang dalam bahasa ustadz di sebut “gibah hingga fitnah” ter-cover muka-muka ustadz sebagai Headline. Rating merekapun tidak kalah dengan artis kelas televisi maupun layar lebar, ustadz ada dalam dimensi yang sama, dipublikasikan dan dipertontonkan dalam ruang publik yang sama yakni sejajar dengan artis, “wah! Ustadz selevel Artis lho!”. Secara Implisit publik hampir sudah tidak bisa membedakan mana artis dan mana ustadz.

Baru-baru ini seorang ustadz menjadi Man Of the Maker, karena selalu menghiasi layar kaca.  Saling tuding “bohong” dengan mantan istri, di liput kehidupan pribadi mulai dari kandasnya hubungan keluarga, asmara, akan menikah dengan artis dan ta’aruf ala artis pula. Meski saling tuding tidak seperti politisi, tapi tudingan yang dilontarkan adalah aib. Yang namanya berita “gosip” mau benar atau tidak bukan substansi, yang penting adalah sensasi. Kalau saja sang ustadz mencari popularitas ini adalah saluran yang tepat, meski tidak akan diakuinya bahwa sebenarnya ia mencari sensasi, tapi hal tersebut dapat diyankini dengan fakta, bahwa ia masuk dalam saluran pencari sensasi demi popularitas.

Artis Jadi Ustadz.

Sebaliknyapun, juga tidak sedikit atris berprofesi ganda nyambi jadi ustadz, yang tidak jelas pernah nyantri di pondok mana. Mereka mengaku terilhami saat membintangi film-film religi dan berbalik haluan menjadi artis yang alim dan bisa berceramah, seperti yang sering diperankannya dalam film. Hal ini tidaklah sulit dilakukan artis, karena mereka memang memiliki keahlian bersandiwara berdasarkan peran yang dilakoni.

Dengan peran yang dimainkan ustadz made in artis (ustadz dari artis) dan ustadz for artis (Ustadz menjadi artis) Ada yang tenar dan apa pula yang hilang reputasi keustadzannya. Ia akan tenar jika mampu memenuhi kebutuhan pasar, kebutuhan produser, dan mampu menjaga Ritme permainan media atau benar-benar menjadi ustadz yang polos tanpa tendensi. Namun juga ia bisa pudar reputasinya baik karena sengaja didesain oleh Invisible Hand (tangan tidak tampak) atau pihak ketiga yang nebeng popularitas ustadz dengan membuat berita sensasional menyudutkan ustadz dan mengangkat namanya, atau memang cobaan dari sang khalik.

Tidak Ada Kode Etik Ustadz.

Dalam menyampaikan dakwahnya ustadz sekarang punya ciri khas tertentu, yang tentunya unik dan diantaranya masing-masing berbeda style. Metode tentu merupakan senjata sang ustadz agar pesan yang disampaikan dapat berbekas pada jama’ahnya, namun metode ternyata berbalik menjadi sebuah Image yang menjadi ciri khas karena memberikan warna dan ciri khusus. Pada kenyataannya, bukanlah substansi pesan rohani yang di kenang, akan tetapi malah metode yang di pakai tertancap di hati masyarakat, sementara pesan mulia tadi hanya terdengar sepintas selalu. Sehingga, kehidupan sehari-hari tidak terlepas dari meniru metode yang menjadi ciri khas para usatdz mulai dari anak kecil hingga orang tua sekalipun.

Perilaku (behavoir) ustadz secara etika ke-ustadz-an sangatlah melenceng, semua orang mungkin akan berdalih bahwa “Ustadz juga manusia” yang tidak pernah luput dari khilaf dan dosa. Ustadz adalah orang yang memberikan ceramah pada orang lain, namun menjadi pertanyaan adalah, siapa yang akan memberikan ceramah pada ustadz bila perilakunya melenceng. Mungkin akan lebih baik para ustadz harus mengadakan musyawarah besar untuk membentuk kode etik ustadz. Supaya ada regulasi yang jelas tentang profesi ustadz, karena ulahnya tidaklah memberi citra negatif pada profesi namun juga rasa dan nilai kepantasan dalam masyarakat.

Nampak bahwa agama telah menjadi komoditas yang menggiurkan untuk dikomersialkan, mulai dari label halal, kalau Mounth Ramadhan berbondong-bondong para artis berpakaian islami dan membuat lagu rohani, agar tetap eksis di panggung hiburan. Artis yang biasanya berpakaian seksi dan seronok kontan berubah seperti muslimah meski hanya pada bulan itu, iklan-iklanpun berbalut nuansa islami, ini adalah cara membiaskan fenomena tabu menjadi layak untuk diperbincangkan. Disini para ustadz panen besar, disamping mengisi berbagai acara televisi sepanjang hari, ia juga menjadi bintang iklan berbagai produk.

Ustadz telah masuk dalam pusaran desain politik industri media yang telah terkoptasi oleh kekutan global yang dikuasai Yahudi. Apa kepentingan seorang Hillary Clinton (Menlu AS) sampai datang ke acara Dahsyat (RCTI)?. Bisnis media di Indonesai tak bisa dipungkiri juga sudah mulai masuk pebisnis yahudi, anteve yang di beli group Bakri 20% sahamnya adalah milik Star TV Hongkong yakni milik raja media Rupert Murdoch sang miliuner Yahudi Australia (Rubbi Shabsi Bulman 2010:101) Semboyan besar pekerja media adalah “siapa yang menguasai media akan menguasai dunia”, mereka mempertentangkan fakta, menciptakan isu, memanipulasi berita, mencipatakan imege dengan mempengaruhi psikologi masyarakat dengan tekhnik propaganda, “they do not tell people what to think, but what to think about”.

Jadi, menjadi ustadz adalah sebuah profesi yang menggiurkan untuk menambah pundi kekayaan dan popularitas. Menjadi ustadz bukanlah panggilan rohani atas nama perintah tuhan tetapi lebih pada unsur lain. Tidak dapat dipungkiri ustadzpun butuh duit, namun lihatlah para ustadz kampungan yang memberikan ceramah pada tiap acara pernikahan, sunatan, atau hari-hari besar keagamaan. Mereka hanya mendapat amplop seadanya, bisa jadi pengganti ongkos pulang, atau hanya diberikan jajanan hajatan yang lebih banyak dari undangan, juga tidak jarang hanya di bayar dengan “terima kasih” saja, esoknya ia harus bekerja membanting tulang menjadi petani atau hanya menjadi pengurus masjid yang tidak pernah sedikitpun pemerintah memperhatikan mereka.

Menyebarkan agama nampaknya adalah lahan mencari kekayaan. Apakah benar tidak ada ustadz yang gratis, benarkah ustadz selalu komersil?. Ini menjadi stigma negatif, para ustadz masuk dalam acara-acara reality show yang jelas-jelas meniru cara-cara televisi barat memainkan propaganda. Dalam acara-acara reality show tersebut, dengan bangga para ustadz di bongkar gaya hidup hingga gaya yang menjadi ciri khasnya dalam menyampaikan dakwah, bukankah ini terjadi pergeseran makna. Bukannya pesan rohani yang ingin ditampakkan tetapi gaya khas seperti yang telah di bahas di atas.

Media masa menentukan apa yang kita ketahui di dunia politik dan pemerintahan secara lokal dan skala global. Dia mengontrol apa yang kita ketahui tentang seni, ilmu pengetahuan, agama, bisnis, keuangan, lingkup jangkauan mereka dan tidak ada habisnya. Media sebenarnya dikendalikan oleh sebuah kelompok milyarder yang memiliki kepentingan dalam ekonomi dan politik. Mereka berusaha untuk mengontrol masyarakat guna mempertahankan dan memperluas kekuasaannya. Hal ini dilakukan dengan beberapa cara, termasuk kontrol media. Media adalah sumber utama informasi tentang dunia dan mempengaruhi cara pandang orang dalam memahami siapa “mereka”, peristiwa apa yang peting dan bagaimana sumber masyarakat harus dibagi. (Rubbi Shabsi Bulman 2010:8-9).

Memang pada masa awal dakwah di tanah Jawa, Wali memiliki cara masing-masing dalam menyebarkan dan menberikan pesan rohani, misalnya lewat wayang. Tapi apa harus kita benarkan ustadz menjadi artis? sungguh naif, karena segala budaya keasyian dunia ada disana, glamour dan selalu menjadi buah bibir orang. Kita sudah tahu zaman sudah di buat edan, tapi apakah harus mengikuti dan terbawa arus, karena ustadz juga merupakan simbol agama. Simbul harus kita jaga, karena simbol sangat mewakili agama yang kita anut.

Merubah Gaya Hidup

Tak dapat dipungkiri bahwa media telah mampu merubah gaya hidup, mampu merubah segala sudut-sudut kehidupan mulai dari yang tidak patut ditanpakkan menjadi biasa saja. Sesuatu yang menjadi kontroversi menjadi serasi, hal yang fenomenal menjadi nominal, bahkan dari tidak ada sekalipun segaja di buat agar ada. Kita dalam kondisi terjajah, orang-orang yang bertanggung jawab di negeri ini, menggunakan terlalu banyak waktu yang diperdebatkan untuk hal-hal yang paling kecil karena terbuai media, sementara barat sudah melayang keruang angkasa dan hidup dalam dimensi digital. Kita hanya menjadi orang yang sibuk menonton kesibukan orang lain.

Kita memang kaget dengan segala kebebasan setelah terkekang dalam orde baru, sehingga kebebasan yang kebablasan tidak mampu di saring. Mana kepentingan asing, kepentingan komersial, mana kepentingan agama tidak ada bingkai pembatas yang jelas. Benteng utama seperti ustadzpun terkoptasi desain busuk pelaku media.

Penulis. Ketua BEM STIH 2008, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), anggota MJC. Mahasiswa F,Hukum Pascasarjana Univesitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

 

Iklan

Satu respons untuk “Agama Diperdagangankan Ustadz

  1. agooze berkata:

    Ya saya setuju, skrg sudah banyak artis yg berkedok ‘ustadz’. Mereka menggunakan metode yang cenderung cari aman, agar tidak kehilangan pangsa pasar atau pengikutnya, misalnya metode GAUL, dan ternyata cara2 spt itu sangat diterima oleh masyarakat, dan hasilnya sudah bisa ditebak, sang ‘ustad’ kini telah hidup mewah dengan koleksi busana, sepatu, bahkan motor gedenya. Sangat prihatin jika dibandingkan dengan para ustadz di daerah/di kampung2 yang hidup sangat sederhana. Semoga Allah SWT menyadarkan kita semua akan hal ini. Amin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s