Profesor yang tak profetik

Oleh, Muslimin Magenda
Apalah arti seorang menyandang nama guru besar atau mahaguru jika sikap dan perbuatannya justeru tidak mencerminkan nama itu? Inilah sebuah kekecewaan penulis yang juga diajar oleh para professor. Batapa tidak, di zaman yang sudah mengharuskan kita belajar jujur, bertanggungjawab, serta dituntut untuk mengedepankan asas kualitas malah dihadapkan pada keraguan yang mendalam atas banyaknya pemberitaan mengenai tingkah-laku beberapa profesor yang tidak samasekali profetik.
Profesor yang selama ini kita agung-agungkan sebagai orang nomor satu di Perguruan Tinggi (PT) ternyata juga ahli dalam hal plagiasi karya milik orang lain. Disebutkan dalam KOMPAS, 6 Maret 2012, terdapat beberapa kasus penjiplakan yang dilakukan oleh beberapa calon profesor untuk mencapai derajat tersebut. Kejadian ini jelas-jelas menciderai kredibilitas perguruan tinggi yang juga disampaikan dalam KOMPAS ingin menjadi pelopor anti korupsi. Ironi dan naïf bila perguruan tinggi hendak mencapai titik suci itu jika gurubesarnya saja banyak yang membenci kesucian itu sendiri.
Menurut hemat penulis, pihak perguruan tinggi tidak usah terlalu menyombongkan diri supaya dianggap sebagai agen pelopor anti korupsi, bila masih terseok-seok menangani persoalan korupsi dan kasus-kasus plagiasi yang di dalam tubuh institusi sendiri. Kampanye semacam itu hanya akan memunculkan banyak pertanyaan yang sulit terjawab. Harus diingat, bahwa pada tahun 2011 lalu, angka korupsi di wilayah pendidikan menempati posisi teratas yakni 54 kasus dari sepuluh sektor yang ada. Sementara itu, Ketua BPK dalam KOMPAS 7 Maret juga memberitakan, terdapat 4 sampai 5 pimpinan PT menjadi tersangka korupsi. Dimana peran para profesor yang selama ini kita anggap sebagai seorang mahaguru yang selalu mengajarkan kita bersikap bijak, bertanggungjawab, menjunjungtinggi ilmu pengetahuan, bekerja keras, dan mengedepankan asas keadilan serta kejujuran?
Segelintir namun berbahaya
Namun penulis tidak sepenuhnya menaruh rasa pesimis yang berlebih atas kondisi PT yang dihuni oleh segudang ilmuwan/I itu. Tentu saja masih banyak orang yang memegang prinsip-prinsip profetik dalam menjalankan amanah itu, termasuk di dalamnya para profesor yang kali ini tidak harus dipuja-puji sampai selangit. Tapi perilaku buruk yang ditunjukkan oleh segelintir pembesar-pembesar ilmu itu semakin memperjelas bahwa telah terjadi pengerusakan besar-besaran di dunia pendidikan Indonesia.
Meski baru beberapa yang ditemukan melakukan pelanggaran, pemerintah tidak boleh membiarkan penyakit-penyakit profesor seperti ini menjalar terus-menerus, karena penyakit begini tidak jauh berbeda dengan tindakan korupsi yang dilakukan oleh beberapa elit politik negeri ini. Jika para profesor yang selama ini kita kenal sebagai figur terpenting dalam dunia pendidikan cenderung mementingkan diri sendiri daripada kemaslahatan yang banyak, maka secara tidak langsung mereka telah mengubur kepercayaan sekaligus memupus harapan bangsa menuju sehatnya pendidikan nasional berikut mematahkan laju persaingan secara global.
Undang-undang menggiurkan
Lahirnya profesor-profesor yang jauh dari sikap profetik juga tidak terlepas dari pemanjaan yang diberikan oleh undang-undang No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dimana pada pasal 56 ayat (1) yang berkaitan dengan hak dan kewajiban dosen berbunyi, “pemerintah memberikan tunjangan kehormatan kepada profesor yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan tinggi setara (dua) kali gaji pokok profesor yang diangkat oleh Pemerintah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama”
Sedikit tidak, pasal tersebut telah menjadi stimulus kehendak yang mempunyai daya tarik lebih kepada para calon-calon profesor itu. Oleh karenanya, pemerintah harus mulai lebih jeli memandang segala permasalahan dari segala sisi, tidak terkecuali dalam hal pembuatan undang-undang serta peraturan pemerintah, meskipun tujuannya tidak bermaksud mendatangkan bala.
Jika pun terdapat sangsi-sangsi tegas yang juga diperundangkan menyangkut pelanggaran-pelanggaran terhadap tugas dan kewajiban, namun mengingat seorang profesor juga mempunyai hasrat layaknya manusia biasa, tentu saja hal-hal seperti itu bisa terlupakan. Jangankan profesor yang hanya berkuasa pada ranah PT, presiden saja yang menjadi orang nomor satu di sebuah negara pun seringkali melupakan janji-janji politik yang pernah diucapkan di hadapan seluruh rakyat.
Perguruan Tinggi berbenah diri
Selain profesor dan calon-calon profesor harus kembali pada hakikat mereka sebenar-benarnya, semua pihak yang ada di PT juga musti sesegera mungkin berbenah diri, mengingat pendidikan adalah akar dari perjuangan melawan kebodohan, kerusakan moral, serta perilaku-perilaku yang berbau korupsi. Ketegasan dalam konteks keadilan harus dibudayakan mulai dari hal-hal terkecil sekalipun. Paling tidak, mereka sudah bisa mendeteksi sejak dini siapa dosen-dosen atau profesor yang kerap meninggalkan tugasnya di lingkungan Universitas, misalnya, kerap terlambat masuk, tidak hadir mengajar, banyak mendapat komplain dari mahasiswa, atau apapun yang dapat dijadikan bahan rujukan yang mengarah pada kelemahan sikap bertanggungjawab pada tugas itu sendiri.
Selain itu, PT dapat saja membuat pengadilan internal untuk menyelesaikan semua kasus yang terjadi di sekitar lingkungan kampus apabila tidak berani membongkar aib perguruan tinggi itu sendiri. Hal tersebut dapat meringankan, sekaligus semakin memperkuat elektabilitas kepercayaan masyarakat sekaligus memberi sedikit jaminan tanggungjawab akan keseriusan perguruan tinggi dalam melawan tindakan penjiplakan oleh dosen dan atau calon-calon profesor nakal itu.

Iklan

2 respons untuk ‘Profesor yang tak profetik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s