ARAH PENDIDIKAN Oleh : IRFAN SAPE Tanggal 22-11-2013

Pada era globalisasi ini bangsa Indonesia menghadapi tantangan cukup berat, terutama dalam menghadapi era persaingan di segala bidang yang ketat. Untuk menghadapi tantangan tersebut, bangsa Indonesia perlu mempersiapkan masyarakat yang sehat, bugar, berprestasi, produktif, beretos kerja tinggi, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan sebagai insan yang sadar akan kedudukan sebagai mahluk ciptaan tuhan. Kemudian ini searah dengan perumusan UU Sistim Pendidikan Nasional 20 Tahun 2003 pasal 1 pada poin pertama yakni; pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Bangsa Indonesia merupakan bagian yang amat penting di kehidupan antar Negara di dunia ini, pada tahun 1970-an di bidang pendidikan Indonesia memberikan kontribusi untuk peradaban yang semakin berkembang, dari waktu-kewaktu peningkatan sumberdaya manusia (SDM) yang sangat baik dan kemandirian yang begitu besar pada jiwa-jiwa tenaga pendidikan saat itu. Sejarah perjalanan Negara Singapura dan Malaysia barangkali tidak akan mungkin melupakan para pahlawan pendidikan dari bangsa Indonesia, sebab saat itu kedua Negara ini mengadopsi konsep-konsep pendidikan dari Indonesia, bahkan menggunakan tenaga guru-guru dari Indonesia. Maka untuk tidak mengurangi rasa hormat sebagai umat manusia yang memikirkan untuk kebaikan bersama khususnya di bidang pendidikan para tenaga pendidikan Indonesia bersedia memberikan bantuan ilmu di Negara Singapura dan Malaysia pada saat itu.Sehingga penulis berasumsi bahwa pendidikan di Indonesia tidak kalah saingnya dengan Negara-negara maju saat itu.
Tapi kejayaan itu sepertinya hanya milik masa lalu.Perlahan namun pasti, dari masa kemasa, dunia pendidikan kita mengalami nuansa kesuraman yang mendalam.Hingga sekarang keadaannya malah semakin carut marut. Kini pendidikan kita sangat jauh tertinggal dibandingkan bangsa-bangsa lain, bahkan dengan Negara yang pernah berguru ke kita saja, kita seperti harus kembali ke belakang.
Berbagai fenomena yang terjadi di bangsa ini mengalami pergeseran hakekat keilmuaan, pergeseran keilmuan tersebut memberikan perubahan yang amat besar terhadap bangsa Indonesia sekarang. Karena bangsa Indonesia sedang dihadapkan pada kondisi krisis ekonomi, ditandai dengan mahalnya kebutuhan bahan pokok, tetapi tidak dibarengi dengan pendapatan yang seimbang, hingga kini membekas luka yang dalam bagi sebagian besar masyarakat kita, ditengah kodisi dunia yang sedang dihadapkan pada krisis perebutan kekuasaan politik dunia, dengan nuansa kental perebutan kekuatan ekonomi dan teknologi di sebagian besar dunia maju dan imbasnya kena bangsa kita.
Pendidikan merupakan menivestasi untuk masa depan kejayaan bangsa, serta melakukan upaya-upaya pembangunan melalui berbagai lini sektor untuk menciptakan masyarakat yang madani berdasarkan demokrasi pancasila di era reformasi pada saat ini, penyadaran akan pentingnya melestarikan nilai-nilai perjuangan para tokoh yang membentuk bangsa Indonesia, maka pergerakan untuk mewujudkan implementasi itu semua harus melalui upaya sinergi.
Menanamkan sikap nilai merupakan kunci utama dalam membentuk karakter manusia, maka akan merangsa pola pikir manusi untuk memiliki tujuan sehingga upaya merealisasisikan pendidikanan yang berkeadilan sosial bagi seluruh umat manusia. Kemudian dari pada itu kunci utama dalam suatu instansi pendidikan adalah mengembangkan kurikulum, jelas ini semua pangkal utama untuk mengembangkan kurikulum adalah kepala sekolah dan guru sesuai dengan mata pelajaran masing-masing.Metode pengajaran dan pembelajaran di sekolah merupakan yang terpenting untuk kinerja guru, karena arah untuk menciptakan manusia-manusia baru yang terampil, disiplin, mandiri, itu semua tergantung dari metode pengajaran dan pembalajaran dari kinerja guru yang inovatif.
Adanya peserta didik yang serba multitalenta dalam berbagai hal tidak sepenuhnya difasilitas oleh pemerintah pusat, maupun pemerintah daerah sebagai perpanjangan tangan untuk menjalankan kewenangannya dalam meningkatkan potensi di era otonomi daerah yang bersifat desentralisasi sekarang.
Pemerintah hanya pandai berjanji kepada masyarakat, padahal di balik itu ada Agenda-agenda politik yang hanya memikirkan perutnya sendiri, betapa tidak berapa banyak anak bangsa yang tidak sekolah, belum lagi yang putus sekolah di karenakan berbagai keterbelakagan ekonomi keluarga. “Bukankah pendidikan itu bagian dari keadilan sosial”?.
Bukti nyata menunjukkan bahwa pendidikan hanya milik orang ekonomi berpendapatan ke atas saja di bangsa ini. Bangsa ini tidak lagi sesuai dengan rohnya yang baik, dikarenakan ada campur tangan manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab akan kesejahteraan masyarakat. Masalah yang muncul saat ini tidak dapat dihitung lagi dengan jari-jari di karenakan ulah para tangan yang mengaku dirinya berkuasa di tanah Nusantara Indonesia, akibat ulah para oknum pemerintah baik eksekutif maupun legislatif kini ditanggun oleh masyarakat.
Betapa tidak masyarakat kini dihadapkan dunia serba moderen, persaingan yang sangat ketat antara kehidupan sosial di negeri ini, bagaimana pemerintah Indonesia saat ini menanamkan dalam dunia pendidikan bahwa nilai yang berupa angka (kuantitatif), adalah satu-satunya yang terbaik mendonkrak pembangunan pendidikan untuk kelulusan seseorang.
Pemerintah Indonesia kini hanya mampu menciptakan masyarakat yang mengejar angka, dan dalam pembelajaran di sekolahpun pemerintah pusat hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menanamkan agar para sisiwa bisa lulus sesuai angka yang di tentukan oleh pemerintah pusat.Sehingga anggapan siswa bahwa kunci dalam pembelajaran adalah menghafal untuk mengejar angka (kuantitatif) yang sudah ditentukan kelulusan di sekolah, sehingga para siswapun tidak mampu menciptakan hal-hal keterampilan baru dalam mengiplementasikanya di kehidupan nyata. Para siswa pasif akan keterampilan dan apalagi untuk mengembangkan keterampilannya tersebut akan dilematik.
Ibarat ungkapan atau peribahasa orang Indonesia yang menyebutkan seperti ini; ibu setiap pagi pergi ke pasar untuk membeli ikan, dan peribahasa orang Jepang seperti ini; ibu setiap hari pergi berjualan ke pasar. Dari peribahasa tersebut membahas tentang seorang ibu dan profesinya, kalau kita tafsirkan akan memiliki makna dan arti yang berbeda pula. Maka yang kita petik dari peribahasa ini bahwa kita orang Indonesia pandai membeli dan selalu suka dengan produk-produk baru dari luar.Orang Jepang dengan keterampilannya menghasilkan karya nyata yang dijualkan ke Indonesia.
Jepang kini sedang dilirik oleh Negara-negara maju dikarenakan banyak potensi keterampilan anak bangsa Jepang yang handal, demi bersaing secara sehat dalam pementasan persaingan dari berbagai sektor Internasional. Jepang salah satu Negara yang subur akan kreativitas sumberdaya manusianya yang saling sinergi tidak mendiskriminasi antara yang satu dengan yang lain.
Padahal kita tahu Jepang tidak terlepas dari Indonesia, di karenakan banyak barang-barang mentah dari Indonesia yang di ekspor dan di kelola dengan baik oleh Negara Jepang, sehingga kita nanti hanya pandai membeli kembali barang mentah yang sudah di kelola dan menghasilkan produk yang bagus oleh Jepang walaupun dengan harga mahal, padahal barang mentah dari Indonesia tersebut di beli dengan harga murah oleh Jepang.
Inilah sikap yang ditanam oleh Jepang untuk menanamkan ke dunia pendidikan sedini mungkin untuk terampil kepada instansi pendidikan, Negara jepang hanya menyiapkan 20% saja yang IQ tinggi untuk kemajuan bangsanya, dan 80 % disiapkan manusia-manusia yang terampil dan kereatif, sehingga Jepang sekarang Negara yang multitalen dalam berbagai bidang khusunya untuk meningkatkan pembangunan yang kreatif.
Berbeda jauh di Negara Indonesia yang menyiapkan para peserta didik ber IQ tinggi 80%, dan 20% menyiapkan peserta didik kreatif, alhasil tidak selamanya orang IQ tinggi akan subur sampai jangka waktu yang panjang, model pembelajaran yang hanya pandai hafal dan mengejar angka tidak akan produktif untuk terampil menemukan sesuatu yang baru dalam dunia pendidikan. Ini semua tidak bisa kita pungkiri Pendidikan kitapun sekarang berlomba-lomba untuk merealisasikan siswa yang pandai hafal dan mengejar angka (kuantitatif) padahal implementasi sebuah cabang ilmu yang berkaitan dengan pendidikan adalah kualitas untuk meningkatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang cakap dan terampil dalam bersaing dengan Negara-negara yang sudah maju dari segi pendidikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s