PERUBAHAN SOSIAL DAN PROBLEM-PROBLEM MASYARAKAT MODERN DI INDONESIA

Oleh: Imam Yuliadi 1.

“Disampaikan pada diskusi FORMS-NTB (Forum Mahasiswa Pasca Sarjana-NTB)
Tanggal 15 Desember 2013, di Surakarta, Jawa Tengah”

“Tak satupun hal yang tidak berubah di dunia kecuali perubahan itu sendiri”
Bismillahhirrahmanirahim…
Melihat judul di atas pembaca mungkin berpikir tulisan ini akan berisi banyak poin tentang problem masyarakat di Indonesia. Namun kesadaran akan keterbatasan pengetahuan mendorong penulis untuk membatasi diri pada perubahan yang terjadi di Indonesia. Dalam artian penulis akan membahas kronologi perubahan dan kerangka general tentang perubahan bangsa akibat masuknya modernisasi. Sehingga dari situ pembaca bisa merenungkan sendiri fenomena-fenomena yang terjadi dalam masyarakat untuk selanjutnya menggali akar permasalahannya.
Tulisan ini lebih bersifat menuntun dari pada menunjuk, dengan harapan pembaca bisa memaknai perubahan sebagai suatu kewajaran. Perubahan sejatinya tidak untuk di lawan, tetapi untuk dimengerti, sehingga kita bisa beradaptasi dengan perubahan itu. “Tak satupun hal yang tidak berubah di dunia kecuali perubahan itu sendiri”.

1. Sejarah Perkembangan Modernisme
a. Perkembangan masyarakat modern

Abad pencerahan atau zaman renaisans (bermula sekitar 1300 M) di Eropa merupakan tonggak yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa. Renaisans ditandai dengan berkembangnya rasionalisme ideologi yang berbasis pada pola pikir yang logis-ilmiah. Masa ini merupakan masa peralihan dari abad pertengahan menuju abad modern.
Zaman Renaisans Eropa Awal (bermula sekitar 1300 M); Abad Modern Awal, dari abad ke-15 sampai akhir abad ke-18, mencakup Abad Pencerahan; dan Abad Modern Akhir, dari masa Revolusi Industri hingga sekarang, termasuk sejarah kontemporer.
Memasuki abad modern Bangsa Eropa mulai melakukan berbagai ekspedisi keberbagai penjuru dunia. Lama kelamaan Bangsa Eropa mendirikan koloni-koloni di berbagai wilayah di Dunia yang menandai masuknya bangsa Eropa pada Zaman imperialis.
Imperialisme kuno bercirikan faham merkantilisme. Paham Merkantilisme berkembang di negara-negara Barat dari abad ke-16 sampai abad ke-18. Paham ini dipelopori oleh beberapa tokoh, seperti Thomas Mun Sir James Stuart dari Inggris, Jean Baptiste Colbert dari Prancis, dan Antonio Serra dari Italia. Secara umum, Merkantilisme dapat diartikan sebagai suatu kebijaksanaan politik ekonomi dari negara-negara imperialis yang bertujuan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya kekayaan berupa logam mulia. (Wikipedia.org)
Ekspedisi-ekspedisi yang dilakukan bangsa Eropa pada masa itu memiliki 3 tujuan utama yang terkenal, yaitu Gold, Glory, Gospel. Bangsa Eropa mengukur kemakmuran suatu Negara dari jumlah emas yang dimiliki. Gold, Glory, Gospel (emas, kejayaan, dan agama). Ini berarti masa merkantilis merupakan masa-masa dimana bangsa Eropa ingin menggali produktifitas ekonomi sebesar besarnya. Dimana Gold menjadi priotitas pertama.
Seiring dengan tumbuh suburnya koloni-koloni bangsa Eropa di Asia, Amerika, dan Afrika. Bangsa-bangsa Eropa merasa tidak cukup dengan melakukan monopoli perdagangan di daerah jajahan. Babak berikutnya pun dimulai, berkembangnya revolusi industry di Eropa berarti produksi barang secara masal pun dimulai. Hal itu membuat kebutuhan akan bahan mentah meningkat tajam. Kebutuhan tersebut mendorong bangsa penjajah memanfaatkan berbagai sumberdaya di negeri jajahan untuk dieksploitasi. Dari membangun perkebunan untuk keperluan industry hingga penggiringan manusia sebagai pekerja di perkebunan.

b. Perkembangan masyarakat modern baru

Setelah kemerdekaan Indonesia belum juga terlepas sepenuhnya dari penjajahan. Dalam artian belum juga berdaulat atas dirinya sendiri. Kalau para intelektual mau jujur dalam mengamati perjalanan Bangsa Indonesia maka mereka akan melihat bangsa ini dalam ketelanjangan. Mungkin bahasa ini sedikit fulgar untuk menggambarkan kondisi Indonesia, tetapi begitulah adanya.
Kita mulai dengan dasar Ideologi bangsa ini, pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum bangsa ini, patokan norma dan nilai universal dalam kehidupan berbangsa. Apakah kita sadar kalau pancasila lahir dari tiga ideology bangsa Eropa? Nasionalisme, Sosialisme, dan Liberalisme. Kesemuanya lahir dalam iklim dunia barat, kemudian berkembang di Negara-negara jajahan (termasuk Indonesia).
Penggalian ideology pancasila sejatinya belum tuntas, founding father kita Bung Karno menyisakan pekerjaan rumah yang berat untuk bangsa ini. Nasionalisme, Sosialisme, dan Liberalisme sejatinya dimaknai dalam konteks nation bangsa Indonesia, bukannya dalam konteks kebarat-baratan yang kita lakukan saat ini. wacana tentang Marhaenisme yang dihembuskan Bung Karno, Islamisme yang kumandangkan Mohammad Natsir, bahkan wacana Komunisme ala Tan Malaka yang pernah dikampanyekan pada masa Orde Lama menunjukan bangsa Indonesia sedang mencari bentuk Ideologi universal versi Indonesia.
Namun alhasil yang berdiri kokoh saat ini justru Liberalisme dan Kolonialisme gaya baru. Bagaimana neo liberalisme dan neo kapitalisme hadir di Indonesia dan bagaimana bentuknya akan penulis bahas dalam Sub berikutnya.

2. Neo Kapitalisme & Neo Liberalisme Di Indonesia

Berbicara neo liberalisme di Indonesia tidak ada yang tau persis kapan ideology ini membuka prakteknya di Indonesia. Disini penulis hanya akan mengulas serangkaian peristiwa yang bisa menjadi patokan bagaimana ideology ini berkembang di Indonesia.
Liberalisme dan komunisme merupakan dua ideology besar yang berkembang di Eropa dan Amerika. Pasca perang dunia ke II (1940-1945 M) muncul dua kekuatan besar. Blok timur yang terdiri dari Negara-negara Komunis dipromotori oleh Uni Soviet (Rusia) dan Blok Barat yang terdiri dari Negara-negara Liberal dipromotori oleh Amerika. Persaingan dua Negara adidaya ini popular dengan sebutan perang dingin. Keduanya berlomba menarik simpati dari Negara-negara dunia ke-tiga. Presiden Soekarno yang sadar akan persaingan dua kekuatan besar ini mengambil jalan tengah dengan mendirikan gerakan Non Blok. Gerakan Non Blok beranggotakan Negara-negara dunia ke-tiga, tujuannya jelas agar tidak terlibat dalam persaingan ideologi dari Negara-negara adidaya.
Tidak berhenti pada Gerakan Non Blok, 18 April-24 April 1955 Sorkarno mengadakan KTT Asia-Afrika. Pertemuan ini dihadiri oleh Negara-negara yang baru merdeka tujuannya mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.
Bagaimana Neo kapitalisme dan Neo liberalisme menancapkan akar-akarnya secara kokoh di Indonesia? Gelagat masuknya ideologi ini sebenarnya sudah tercium sejak lobi-lobi dan diplomasi yang dilakukan saat perjuangan merebut kemerdekaan 1945. Namun puncak dari kekokohan ideologi ini adalah saat runtuhnya kekuasaan Soekarno pasca Gerakan 30 September 1965 (G-30S).
Berbicara masalah ideologis, Masa pemerintahan Soekarno adalah masa-masa dimana Indonesia sedang di persimpangan 3 ideologi besar pada masa itu, yang terkenal dengan  NASAKOM (Nasionalis, Agamais, & Komunis) yang di propagandakan oleh Bung Karno sendiri. Bung Karno berusaha menyatukan 3 ideologi itu dibawah kepemimpinannya agar stabilitas politiknya tetap terjaga dan dia tetap berkuasa. tapi ternyata bukan ketiga ideologi tersebut yang sukses menjadi ideologi negara, justru liberalisme yang menang, dengan kudeta merangkak ala Suharto yang sudah kongkalikong dengan AS lewat agen-agen CIA (Baca: John Roosa, 2008, Dalih Pembunuhan Masal).
Setelah Soekarno bisa ditumbangkan, hasilnya Nasionalisme jadi sekedar logo, Islam disisihkan, dan Komunis yang diadu dengan Islam luluh lantah. akhirnya Kapitalisme & Liberalisme memainkan peran dengan bebas di Indonesia, politik ekonomi berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) ala Soekarno tidak laku lagi. Hingga sekarang diakui atau tidak Indonesia menganut sistem pemerintahan liberal yang tidak jelas arahnya, ke arah sistem perlementer ato presidensial. Tidak berhenti sampai di situ, liberalisme justru masuk dalam semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan bangsa ini pun lupa untuk menggali identitasnya.

3. Teknologi Informasi Dan Telekomunikasi

Globalisasi bisa dikatakan sebagai kendaraan Ideologi Eropa. Liberalisme maupun kapitalisme menempuh jalan mulus sejak kepemimpinan Presiden Soeharto. Arus kapitalisme semakin deras, berbagai perusahaan Amerika seperti Freeport dan Newmont bercokol dengan kokoh di Indonesia.
Lebih dari itu globalisasi ikut memicu berbagai degradasi moral dalam masyarakat. percepatan arus globalisasi yang tidak berjalan beriringan dengan peningkatan pendidikan menimbulkan culture shock dalam masyarakat. Hal ini diakibatkan oleh determinisme teknologi. Determinisme teknologi adalah sebuah teori yang menegaskan bahwa perubahan yang terjadi dalam perkembangan teknologi sejak zaman dahulu sampai saat ini memberikan pengaruh yang besar terhadap masyarakat. Perkembangan teknologi seperti reka baru atau bisa juga disebut inovasi, penemuan-penemuan baru, dan hal-hal lain yang bertujuan mengembangkan teknologi untuk mempermudah kegiatan-kegiatan manusia, memberikan pengaruh yang besar kepada perkembangan nilai-nilai sosial dan kehidupan dalam masyarakat.

4. Arus Teknologi Komunikasi Yang Tidak Terbendung

Seperti yang dikemukakan oleh Rogers (1986: 110) “Sebab dan akibat dari perubahan sosial di masyarakat adalah teknologi komunikasi” diluar perubahan itu berdampak baik atau buruk bagi suatu masyarakat . teknologi bisa merubah wajah suatu masyarakat dengan cepat. Sehingga perubahan sosial adalah selalu berjalan berringan dengan perkembangan teknologi, dari perubahan gaya hidup, kepribadian hingga perubahan budaya.
perubahan sosial adalah segala perubahan yang terjadi dalam lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya. Tekanan pada definisi tersebut adalah pada lembaga masyarakat sebagai himpunan kelompok manusia dimana perubahan mempengaruhi struktur masyarakat lainnya Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat seperti misalnya perubahan dalam unsur geografis, biologis, ekonomis dan kebudayaan. (Selo Sumardjan, 1990)
Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan lainnya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan (Soekanto, 2012: 43).

5. Sosiologi Memandang Proses Modernisasi (Masyarakat Peralihan)
Masa-masa paling rentan dalam kehidupan sosial masyarakat adalah masa peralihan, seperti halnya dalam kajian ilmu psikologi, masa-masa rentan seorang individual dalam psikologi perkembangan adalah masa peralihan dari masa anak-anak menjadi dewasa atau biasa disebut dengan masa remaja. Masa peralihan dari masyarakat tradisional ke modern biasanya terjadi disorganisasi.
Disorganisasi adalah proses berpudarnya atau melemahnya norma-norma dan nilai-nilai dalam masyarakat karena adanya perubahan. pada awal proses modernisasi yang biasanya berupa industrialisasi, pengangguran merupakan persoalan yang meminta perhatian mendalam. yang sangat berpengaruh pada penerimaan atau penolakan modernisasi, terutama adalah sikap nilai, kemampuan menunjukkan manfaat unsur-unsur yang baru, serta kesepadanannya dengan unsur-unsur kebudayaan yang ada. (Soekanto, 2012: 305)
Soerjono Soekanto (2012: 306-307) menjelaskan syarat-syarat modernisasi dalam beberapa poin sebagai berikut:
a. Cara berpikir yang ilmiah
b. Sistem administrasi Negara yang baik
c. Adanya sistem pengumpulan data dalam suatu lembaga tertentu
d. Penciptaan iklim favorable (menguntungkan) terkait penggunaan alat-alat komunikasi
e. Tingkat organisasi yang tinggi
f. Sentralisasi wewenang dalam pelaksanaan perencanaan sosial (social planning). Apabila itu tidak dilakukan, maka perencanaan akan terpengaruh oleh kekuatan-kekuatan yang ingin mengubah perencanaan tersebut demi kepentingan suatu golongan kecil dalam masyarakat.

6. Bagaimana Masyarakat Indonesia Seharusnya?

Untuk Indonesia yang lebih baik alangkah baiknya kalau bangsa ini lebih siap dalam menghadapi perubahan. Sikap menolak perubahan tidaklah bijak menurut penulis, yang sejatinya disiapkan adalah bagaimana menghadapi perubahan. Ada beberapa Aspek yang harus diperkuat oleh suatu bangsa dalam menghadapi perubahan, antara lain: 1.) Pendidikan, 2.) Ekonomi, 3.) Kedaulatan Negara, dan 4.) Penegakan Hukum.
Empat aspek ini tidak berdiri sendiri. Kesemuanya saling berkaitan satu sama lain. Pertama, Pendidikan adalah dasar untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan perbaikan sektor pendidikan, secara tidak langsung kita memperbaiki sektor-sektor yang lain. Dengan perbaikan pendidikan bangsa ini bisa melahirkan sarjana-sarjana ekonomi yang siap membangun kemandirian ekonomi, baik di sektor ekonomi micro maupun sektor makro. Dengan perbaikan pendidikan bangsa ini bisa melahirkan prajurit prajurit tangkas, dan cerdas dalam berstrategi, tidak asal berani mati di medan perang. Dengan perbaikan pendidikan bangsa ini bisa melahirkan penegak hukum yang tidak hanya adil, tapi juga berintegritas dan bermoral.
Kedua, Perbaikan Ekonomi dibutuhkan untuk mempercepat perkembangan dan pembangunan di segala sektor. Pendidikan membutuhkan biaya yang besar untuk menunjang sarana pembelajaran yang layak. Untuk mempertahankan kedaulatan Negara dibutuhkan persenjataan lengkap, sarana penunjang yang canggih, dan biaya diplomasi yang sangat besar. Dalam hal hukum pun dibutuhkan biaya yang besar untuk menghindari pungutan liar maupun godaan suap. Dan banyak lagi aspek-aspek lain yang akan sangat panjang kalau dipaparkan di sini.
Ketiga, Kedaulatan Negara adalah aspek vital dari dari sebuah Negara. Tidak hanya berkutat pada persoalan pasukan dan armada perang, kedaulatan juga berbicara masalah nilai tawar dalam berdiplomasi. Indonesia memiliki armada perang yang lebih canggih dan pasukan yang lebih besar dibandingkan Malaysia, termasuk Kopassus sebagai pasukan elite terhebat ketiga di dunia. Namun dalam hal diplomasi Malaysia mempunyai nilai tawar lebih tinggi dari Indonesia. Malaysia tergabung dalam anggota aliansi Five Power Defence Arrangements (FPDA) yang memiliki kesepakatan bersama dengan anggota FPDA. ketika Malaysia diserang oleh Negara lain, maka anggota FPDA wajib membantu Malaysia. Anggota FPDA antara lain; Singapura, Selandia Baru, Australia, dan Inggris.
Keempat, Penegakan Hukum, dalam masyarakat modern permasalahan akan menjadi sangat kompleks. Baik dalam hubungannya dengan sesama anggota masyarakat maupun dalam hubungan antara masyarakat dengan birokrasi dan pemerintahan. Baik permasalahan hukum pidana, perdata, hingga tata usaha Negara. Penegakan hukum yang benar dalam suatu Negara akan menjaga stabilitas internal, sehingga bisa tercipta masyarakat yang berkeadilan.
Dalam merumuskan empat aspek ini penulis sama sekali tidak bermaksud mengkerdilkan aspek aspek lain seperti kesehatan, pertanian, birokrasi, maupun aspek-aspek lain dalam kehidupan berbangsa. Empat aspek tersebut penulis ambil dari tahapan-tahapan perkembangan modernisasi dunia barat. Pertimbangan ini diambil mengingat modernisasi merupakan produk dunia barat sehingga adalah hal yang wajar jika cara menghadapinya pun dengan penguatan aspek yang sama dan telah teruji oleh sejarah. Yang dimasud dengan teruji oleh sejarah adalah tahapan-tahapan perkembangan bangsa eropa menuju masyarakat modern melewati berbagai tahapan zaman. Dan di setiap zaman terdapat penekanan/aspek yang diprioritaskan. Masa renaisans adalah masa awal kebangkitan bangsa Eropa. Pada masa itu pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan dengan pesat. Masa berikutnya adalah masa merkantilis yang diwarnai dengan perlombaan di bidang ekonomi, bangsa Eropa berusaha melakukan berbagai kegiatan ekonomi untuk meraih kemakmuran. Masa kolonial ditandai dengan ditegakkannya wilayah-wilayah koloni, yang sering kita sebut dengan tanah jajahan. Dan terakhir setelah bangsa Eropa menjadi bangsa yang modern, mereka menjadi kiblat peradaban dunia. Masyarakat eropa menjadi sangat kompleks, pada masa ini mereka mulai menata produk hukumnya dengan rapi yang bertujuan menata masyarakatnya.
Terakhir penulis ingin mengutip sebuah kata dari seorang sejarawan asal Yunani Kuno, yang juga merupakan bapak sejarawan dunia, Herodotus (485 SM): “Merupakan tugas saya untuk mengulangi apa yang dikatakan, tapi jangan pernah langsung percaya dengan apa yang saya tulis tanpa syarat, pernyataan ini berlaku untuk semua karya saya.” Tak ada manusia yang luput dari salah dan dosa. Untuk itu segala hal terkait tulisan ini sangat diharapkan kritik dan saran dari pembaca yang budiman. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk Inonesia yang lebih baik. Merdeka…,

DAFTAR PUSTAKA

Roosa, John. 2008. Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto. Jakarta: Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra

Rogers, E. M. (1986). Communication technology: The new media in society. New York: Free Press

Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada

Soemardjan, Selo. 1980. Kemiskinan Struktural dan Pembangunan: Pengantar. Jakarta: Yayasan Ilmu-ilmu Sosial

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_dunia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s