Karakteristik Masyarakat Indonesia (Multikultural) dan Pro-kontra Gerakan Transnasional Islam.

Oleh: Rehan

A. Karakter masyarakat Indonesia
Indonesia merupakan masyarakat multikultural. Hal ini terbukti di Indonesia memiliki banyak suku bangsa yang masing-masing mempunyai struktur budaya yang berbeda-beda. Perbedaan ini dapat dilihat dari bahasa, adat istiadat, religi, tipe kesenian, dan lain-lain. Pada dasarnya suatu masyarakat dikatakan multicultural jika dalam masyarakat tersebut memiliki keanekaragaman dan perbedaan.

Keragaman dan perbedaan yang dimaksud antara lain, keragaman struktur budaya yang berakar pada perbedaan standar nilai yang berbeda-beda, keragaman ras, suku, dan agama, keragaman ciri-ciri fisik seperti warna kulit, rambut, raut muka, postur tubuh, dan lain-lain, serta keragaman kelompok sosial dalam masyarakat.

berbicara masyarakat multikultural adalah membicarakan tentang masyarakat negara, bangsa, daerah, bahkan lokasi geografis terbatas seperti kota atau sekolah, yang terdiri atas orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda-beda dalam kesederajatan (C.W. Watson, 1998). Pada hakikatnya masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri atas berbagai macam suku yang masing-masing mempunyai struktur budaya (culture) yang berbeda-beda. Dalam hal ini masyarakat multikultural tidak bersifat homogen, namun memiliki karakteristik heterogen di mana pola hubungan sosial antarindividu di masyarakat bersifat toleransi dan harus menerima keberadaan untuk hidup berdampingan secara damai (peace to existence) satu sama lain dengan perbedaan yang melekat pada tiap etnisitas sosial dan politiknya. Oleh karena itu, dalam sebuah masyarakat multikultural sangat mungkin terjadi konflik vertikal dan horizontal yang dapat menghancurkan masyarakat tersebut. Sebagai contoh, pertikaian yang melibatkan sentimen etnis, ras, golongan dan juga agama terjadi di berbagai negara mulai dari Yugoslavia, Cekoslavia, Zaire hingga Rwanda, dari bekas Uni Soviet sampai Sudan, dari Sri Lanka, India hingga Indonesia.

Pengertian masyarakat multicultural
pengertian masyarakat multicultural (majemuk). Dalam berbagai perspektif:
 J.S. Furnivall (1967) Bahwa masyarakat multicultural merupakan masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih komunitas (kelompok) yang secara cultural dan ekonomi terpisah-pisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda-beda satu sama lainnya. Dengan demikian, berdasarkan konfigurasi (susuannnya dan komunitas etnisnya, masyarakat majemuk dibedakan menjadi empat kategori, yaitu: pertama, Masyarakat majemuk dengan komposisi seimbang. Kedua, Masyarakat majemuk dengan mayoritas dominan. ketiga, Masyarakat majemuk dengan minoritas dominan. Keempat, Masyarakat majemuk dengan fragmentasi.

 Nasikun (2004) Masyarakat majemuk merupakan suatu masyarakat yang menganut berbagai system nilai yang dianut oleh berbagai kesatuan sosial yang menjadi bagian-bagiannya adalah sedemikian rupa sehingga para anggotanya kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai suatu keseluruhan, kurang memiliki homogenitas kebudayaan atau bahkan kurang memiliki dasar-dasar untuk saling memahami satu sama lain.

 Pierre L. Vanden Berghe hanya menyebutkan sifat-sifat dari masyarakat multicultural sebagai berikut: Terjadinya segmentasi dalam bentuk kelompok-kelompok yang sering kali memiliki sub-kebudayaan yang satu sama lain berbeda. Memiliki struktur social yang berbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer. Kurang mengembangkan consensus diantara para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar. Secara relative, sering kali mengalami konflik-konflik di antara kelompok yang satu dangan kelompok yang lainnya. Secara relative, integritas social tumbuh di atas paksaan dan ketergantungan di dalam bidang ekonomi. Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok-kelompok yang lainnya.

 Clifford Geertz (1973) Ia menyebut konsep masyarakat majemuk sebagai ”masyarakat pluralistic”. Masyarakat Plural setidak-tidaknya ditandai oleh ikatan-ikatan primodial yang dapat diartikan dengan budaya pencitraan atau “penandaan” yang diberikan (given), diantaranya: Ras, Bahasa, Daerah/ wilayah Geografis, Agama, dan Budaya.

Permasalahan dalam masyarakat multicultural
Untuk membangun masyarakat multikultural yang rukun dan bersatu, ada beberapa nilai yang harus dihindari, yaitu:
Pertama, Primordialisme.
Primordialisme artinya perasaan kesukuan yang berlebihan. Menganggap suku bangsanya sendiri yang paling unggul, maju, dan baik. Sikap ini tidak baik untuk dikembangkan di masyarakat yang multicultural seperti Indonesia. Apabila sikap ini ada dalam diri warga suatu bangsa, maka kecil kemungkinan mereka untuk bisa menerima keberadaan suku bangsa yang lain.

Kedua, Etnosentrisme
Etnosentrisme artinya sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaannya sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan yang lain. Indonesia bisa maju dengan bekal kebersamaan, sebab tanpa itu yang muncul adalah disintegrasi sosial. Apabila sikap dan pandangan ini dibiarkan maka akan memunculkan provinsialisme yaitu paham atau gerakan yang bersifat kedaerahan dan eksklusivisme yaitu paham yang mempunyai kecenderungan untuk memisahkan diri dari masyarakat.

Ketiga, Diskriminatif
Diskriminatif adalah sikap yang membeda-bedakan perlakuan terhadap sesama warga negara berdasarkan warna kulit, golongan, suku bangsa, ekonomi, agama, dan lain-lain. Sikap ini sangat berbahaya untuk dikembangkan karena bisa memicu munculnya antipati terhadap sesame warga negara.

Keempat, Stereotip
Stereotip adalah konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Indonesia memang memiliki keragaman suku bangsa dan masing-masing suku bangsa memiliki cirri khas. Tidak tepat apabila perbedaan itu kita besar-besarkan hingga membentuk sebuah kebencian.

Indonesia  sebagai sebuah negara yang kaya akan khazanah budaya. Beribu-ribu pulau berjajar dari ujung barat sampai ujung timur, mulai dari Sumatra hingga Papua. Setiap pulau memiliki suku bangsa, etnis, agama, dan ras masing-masing. Keadaan inilah yang menjadikan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat multikultural. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika bisa jadi merupakan sebuah ”monumen” betapa bangsa yang mendiami wilayah dari Sabang sampai Merauke ini memang merupakan bangsa yang majemuk, plural, dan beragam.
Keanekaragaman budaya dan masyarakat dianggap pendorong utama munculnya persoalan-persoalan baru bagi bangsa Indonesia. Contoh keanekaragaman yang berpotensi menimbulkan permasalahan baru sebagai berikut:
Pertama, Keanekaragaman Suku Bangsa Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki kekayaan budaya yang luar biasa banyaknya. Yang menjadi sebab adalah keberadaan ratusan suku bangsa yang hidup dan berkembang di berbagai tempat di wilayah Indonesia. Kita bisa membayangkan apa jadinya apabila masing-masing suku bangsa itu mempunyai karakter, adat istiadat, bahasa, kebiasaan, dan lain-lain. Kompleksitas nilai, norma, dan kebiasaan itu bagi warga suku bangsa yang bersangkutan mungkin tidak menjadi masalah. Permasalahan baru muncul ketika suku bangsa itu harus berinteraksi sosial dengan suku bangsa yang lain. Konkretnya, apa yang akan terjadi denganmu saat harus bertemu dan berkomunikasi dengan temanmu yang berasal dari suku bangsa yang lain.

Kedua, Keanekaragaman Agama Letak kepulauan Nusantara pada posisi silang di antara dua samudra dan dua benua, jelas mempunyai pengaruh yang penting bagi munculnya keanekaragaman masyarakat dan budaya. Dengan didukung oleh potensi sumber alam yang melimpah, maka Indonesia menjadi sasaran pelayaran dan perdagangan dunia. Apalagi di dalamnya telah terbentuk jaringan perdagangan dan pelayaran antarpulau. Dampak interaksi dengan bangsa-bangsa lain itu adalah masuknya beragam bentuk pengaruh agama dan kebudayaan. Selain melakukan aktivitas perdagangan, para saudagar Islam, Hindu, Buddha, juga membawa dan menyebarkan ajaran agamanya. Apalagi setelah bangsa Barat juga masuk dan terlibat di dalamnya. Agama-agama besar pun muncul dan berkembang di Indonesia, dengan jumlah penganut yang berbeda-beda. Kerukunan antarumat beragama menjadi idam-idaman hampir semua orang, karena tidak satu agama pun yang mengajarkan permusuhan.

Ketiga, Keanekaragaman Ras Salah satu dampak terbukanya letak geografis Indonesia, banyak bangsa luar yang bisa masuk dan berinteraksi dengan bangsa Indonesia. Misalnya, keturunan Arab, India, Persia, Cina, Hadramaut, dan lain-lain. Dengan sejarah, kita bisa merunut bagaimana asal usulnya (Hendrik Boby Hertanto.2012).

B. Islam di Indonesia
Setelah tumbangnya rejim orde baru, konstalasi peta politik ditanah air mengalami perubahan yang signifikan atau terjadi reformasi dalam segala bidang kehidupan pemerintahan, hukum, kepolisian, tentara, dan yang lebih penting adalah terjadi reformasi system politik, pemilu dan susduk MPR, DPR, DPRD yang diikuti dengan kebijakan politik mengenai otonomi daerah. Pasca reformasi system politik, banyak kalangan intelektuan, kelompok kepentingan, kalangan agamawa, kalangan perempuan,etnis dan ras serta berbaga pihak yang concern pada perkembangan politik dan demokrasi memberikan respon atas perubahan tersebut.
Partai politik yang banyak diminati adalah yang secara simbolik berkaitan dengan islam, sehingga politik di Indonesia “identik” dengan islam, pada pemilu tahun 1999 banyak partai yang bermunculan dan banyak diminati oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Seperti halnya partai-partai Islam yang kita kenal sekarang, parti islam seperti PPP, partai bulan bintang (PBB), parta keadilan sejahtera (PKS), partai amanat nasional (PAN), partai nahdatul ulama (PNU), dan partai umat muslim Indonesia (PUMI). Walaupun demikian dominasi partai Golkar dan partai nasional lainya seperti PDI perjuangn dan PKPI, tetap tidak bisa terhindarkan (syarifuddin, 2008:57).
Pergeseran cuaca politik dari masa orde baru kemasa reformasi yang ditangai dengan gerakan mahasiswa dan berakhirnya masa kepresidenan Soeharto sebagaimana kita kenal sebagai rejim otoriter pada tahun 1998, telah membawa banyak perubahan terhadap pola komunikasi elit agama, akademisi dan praktisi. Para kritikus yang selama masa orde baru termarjinalkan. Kehadiran elit baru dalam pentas politik Indonesia, dan mengancam esksistensi partai golkar yang jaya pada masa orde baru. Melalui pergantian cuaca politik inipula, partai-partai islam bermunculan dan mendapat dukungan luas dari masyarakat muslim yang mayoritas dinegeri ini. Tumbuh berkembangnya partai politik baru ini, tidak terlepas dari dukungan keberpihan kepentingan masyarakat, khususnya masyarakat muslim. Kita juga harus akui bahwa pemilu tahun 1999 bukanlah pemilu pertama yang dilaksanakan dengan demokrasi, tetapi telah terlaksana pemilu pertama pada tahun 1955.
Dalam perspektif teori sosial, Emiledurkheim menemukan bahwa Esensi abadi agama dalam suatu latar yang memisahkan yang sacral dari semua hal yang duniawi (Edwar, 2007). Yang sacral diciptakan melalui ritual-ritual yang mengubah kekuatan moral masyarakat kedalam symbol-simbol agamais yang mengikat para individu pada kelompok. Dengan ikatan moral itu menjadikan ikatan kognitif, karena kotegori-kategori untuk pemahaman, seperti klasifikasi, waktu, ruang dan penyebab, juga berasal dari ritual-ritual agamais (Ritzer, 2007:168). Dalam aktualisasi menjamurnya partai politikyang berbasiskan islam di Indonesia, menyadarkan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang mayoritas muslim, langkah yang mereka anggap tepat sebagai basis kekuatan politik.

C. Gerakan transnasional Islam di Indonesia
Islam garis keras
Islam garis keras yang dimaksudkan disini sebagai individu dan organisasi. Individu garis keras yaitu orang yang menganut secaa mutlak ataau absolutism pemahaman agama, bersikap tidak toleran terhadap pandangan dan keyakinanyang berbeda, perilaku atau menyetujui perilaku dan mendorong orang lain atau kepemerintahan berperilaku memaksakan pandangannya sendiri kepada orang lain. Memusuhi serta membenci orang lain yang disebabkan oleh perbedaan pandangan. Membenarkan kekerasan terhadap orang lain dan Menolak pancasila sebagai dasar Negara atau landasan hidup bersama. Menginginkan terbentuknya Negara islam dan khilafah islamiyah.
Organisasi garis keras yaitu kelompok yang menghimpun individu-individu garis keras, dengan visi dan misi orgaanisasi yang berorientasi pada tindak tidak toleran terhadap perbedaan baik secara tampak maaupun tersembunyi.
Strategi utama gerakan islam transnasional dalam usaha mewujutkan umat islam menjadi radikal dan keras adalah dengan membentuk kelompok-kelompok local sebagai kaki tangan ideology wahabi atau salafi. serta berusaha meminggirkan dan memusnahkan bentuk-bentuk budaya islam yang lebih toleran yang telah lama ada dan dominan diberbagai belahan dunia. Seperti halnya di daerah-daerah arab Saudi, sudan, gazah, afhganistan, thaliban dan Pakistan. Kebanyakan islam dibelahan dunia muslim, hampir tidak ada usaha serius untuk mengungkap gerakan kelompok-kelompok garis keras serta mobilisasi dukungan untuk pandangan yang umumnya pluralistic, dan sejalan dengan dunia modern.
Para aktifis garis keras, menyadari sepenuhnya bahwa mereka tengah terlibat dalam perang “ide-ide” dan konsep untuk meyakinkan umat islam diseluruh dunia, bahwa ideology ekstrem mereka adalah sebagai satu-satunya interpretasi kebenaraan tentang islam. Mereka lebih memahami islam secara monolitik dan menolak varian-varian islam local dan spiritual seperti diramalkan umat islam paada umumnya, sebagai bentuk pengamalan islam yang salah dan sesat karena sudah tercemar karena tidak murni lagi (Abdurraahman wahid, 2009;43).
Di Indonesia pada kenyataanya nilai spiritual masih sangat kuat, dan tokoh-tokoh islam Indonesia yang menyadaria akan adanya ancaman gerakan islam garis keras dan menghadapinya. Reaksi terhadap infiltrasi dan aktifitas gerakan ini, seperti dakwah wahabi atau salafi ini dapat dilihat pada SKPP Muhammadiyah nomor 149/kep/1.0/B/2006, fatwa majelis bahstul masa’il NU tentang khalifah islamiah, majelis ulama Indonesia (MUI), serta respon ulama dan tokoh nasional tentang bahaya dan ancaman gerakan transnasional.
Reaksi ormas-ormas moderat dan respon para ulama serta tokoh-tokoh nasional dalam menanggapi indikasi menguatnya pengaruh, dan infiltrasi gerakan islam garis keras di Indonesia, pada dasarnya menjadi pelajaran baagi umat islam di Indonesia dan seluruh dunia dalam melakukan mobilisasi perlawanan atas gerakan wahabi/salafi, serta menggalang dukungan dari para pemimpin islam yang belum tercemar oleh gerakan islam garis keras ini untuk sama-sama mengkanter penyebaran ideology gaaris keras tersebut. Upaya-upaya untuk menemukan titik teran dari aktivitas –aktivitas gerakan transnasional secara public.

Ideology wahabi-ikhwanul muslimin di Indonesia
Dalam salah satu hadits menyatakan bahwa “umat islam akan terbagi dalam 73 golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu yang akan selamat, yaitu yang memegang teguh kepada sunah kudan jamah sahabatku” (ma’ana alaih wa ash habii). Dalam versi lain menyatakan, “semua akan selamat, kecuali satu” (akan tetapi riwayat ini dinilai lemah/ dla’ifi), (Naazhhm al-mutanatsir, jilid I: 47). Kelompok ini kemudian populer dengan istilah ahlussunah wal jama’ah (aswaja), Para ulama berusaha dengan keras untuk mengidentifikasi aswaja ini, yang kemudian menyimpulkan dalam konteks interaksi sosial dalam sikap al-tawassuth wali’tidal, atau sikap moderat dan konsisten.
Hadis ini sangat terkenal, disebabkan karena kehidupan akhirat. Perbedaan versi ini menjadikan dualism pemahaman. Apakah dari 73 golongan ini semuanya masuk neraka kecuali satu kelompok, atau sebaliknya 73 golongan ini selamat kecuali satu golongan yang celaka. Pengklaiman kelompok mana yang benar dan yang slah tentu tidak akan pernah menemukan jalan klaim yang benar. Demi mendapatkan pengklaiman yang benar rela mengkafirkan pihak yang lain, untuk memperkuat bahwa keselatan itu milik kelompok mereka. Karena kesibukan dengan saling mengklaim, akhirnya mereka lupa bahwa keselamatan tidak ditentukan oleh pengklaiman yang benar dan yang salah. Tetapi dengan ketulusan dan keikhlasandalam beragama, berserah diri, tunduk dan patuh terhadap perintah dan larangan dari Allah SWT.
Dalam salah satu hadist baarang siapa yang mengkafirkan saudaranya, maka salah seorang darinya benar-benar kafir (man kaffara aakha’hu faqad ba’a biha’ ahaduha Hr. Ahmad ibnu hambal)(masnad abdullah ibn umar jilid III;455) dalam haadist lain menegaskan siapapun yang mengkafirkan saudaranya tampa kejelasan yang nyata, adalah dia sendiri yang kafir (man kaffara akha’hu bighairi ta’wil fahuwa kama’ qala’ Hr. Imam bukhhari) (shahih al-bukhari, jilid XX Bab 73;259). Kita tidak memiliki hak untuk mengklaim hukum milik tuhan, Hukum mengkafirkan sesama manusia, telah mengesampingkan peran akal manusia dalalm memahami makna yang tersirat maupun tersurat dalam wahyu, hukum hanyalah milik Allah SWT.
Wahabi adalah sebuah sekte keras. Wahab sendiri lahir pada taahun 1703/1115 di uyaainaa, daerah najd bagian timur kerajaan arab Saudi sekarang. Pemahaman ekstrem dank eras ibn alwahab yang disebut wahaabi oleh para pengikutnya hingga saat ini masih terus diperjuangkan. Sekte ini menolak rasionalisme, tradisi dan beragam khazanah intelektual dalam Islam. Kehadiran wahabi di Indonesia era modern tidak bisa dielakandan sulit menolak adanya relasi antara fenomena kekerasan seperti halnya yang terjadi di arab Saudi dan disebarkan ke Nusantara oleh peran dari agen mereka (Abdurraahman wahid, 2009;59).
D. Pro-kontra gerakan Islam di Indonesia
Dalam skala politik internasional terorisme menjadi bomerang bagi umat Islam, karena ketidak adilan Amerika yang menjustifikasi bahwa Islam lekat dengan terorisme, pada hal sudah menjadi pengetahuan kita bersama bahwa, Islam mengecam keras tindakan kekerasan, karena Islam adalah agama yang cinta perdamaian. Ironisnya, isu terorisme ini juga dibenturkan dengan eksistensi pesantren yang sudah lama diakui oleh masyarakat mempunyai peran penting dalam pengembangan dan terus menfasilitasi aktivitas sosial keagamaan masyarakat.
Ini merupakan satu kekuatan kultural yang mampu dijadikan sebagai instrumen dalam menghadapi percaturan global. Seperti isu terorisme yang dibenturkan dengan eksistensi pesantren di seluruh Indonesia hanyalah strategi Barat untuk menguasai dunia Islam khususnya di negara-negara dunia ketiga, oleh karena itu kita harus melakukan munter hegemonic dengan strategi kebudayaan yang kita miliki.
Pluralitas gerakan
Disisi lain, pluralitas masyarakat Islam di Indonesia juga mengalami perkembangan yang sangat pesat, yang tercermin pada banyaknya “sekte-sekte” yang terus bemunculan, seperti, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Hizbuttahrir Indonesia (HTI), Front Pembebas Islam (FPI), Laskar Jihad, Lembaga Dakwah Islam Indonesia LDII, Kelompok Salafi, Islam Jama’ah, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Jaringan Islam Liberal (JIL), Jaringan IntelektuaI Muda Muhammadiyah (IMM) dan lain sebagainya. Beberapa aUran tersebut ada yang menganut paham modern dan ada pula yang menganut paham Islam fundamentalis. Selain itu, di Indonesia juga terdapat aliran keagamaan yang dinilai meresahkan masyarakat yaitu, kelompok Ahmadiyah dan kelompok Eden. Dua aliran inti telah menimbulkan konflik sampai mengarah pada kebiasan masyarakat akar rumput.
Jika ditelah secara mendalam, politik terorisme internasional akan merenggangkan kerekatan kultural antara pesantren dan masyarakat yang sudah lama dibangun. Dan tentunya akan mengarah pada disintegrasi umat Islam, sehingga integritas umat Islam sebagai kekuatan sosial akan terfragmentasi oleh konflik internal, akibat isu yang tidak jelas tetsebut, dan ini membuat seluruh kaum muslimin “tegang”.
Ini merupakan suatu belenggu atas kebebasan pesantren. ini akan memetakan Islam dan pesantren dalam perspektif politik internasional yang berusaha untuk mengungkap kebohongan Barat atas isu terorisme yang sekarang sedang santer dan tentunya mampu memberikan dinamika perubahan tersendiri dalam dunia pendidikan Islam, khususnya pesantren (Manfred Ziemck, 2005:31).
Sedikitnya terdapat tiga pesantren-pesantren al Mukmin Ngruki di Surakarta, Pesantren Al Zaitun di Indramayu, dan pesantren Al Islam di Tenggulung Solokuno Lamongan yang disebut-sebut dalam diskursus Islam radikal di Indonesia versi Amitika. Ketiga pesantren tersebut diduga menjadi sumber gagasan-gagasan untuk mendirikan Negara Islam, menerapkan syari’at Iskm dan juga mengkampanyekan anti-Amerika, sehingga memunculkan gerakan-gerakan terorisme. Namun tak bisa dipungkiti, bahwa pengklaiman ini tentu menimbulkan ekses negatif bagi perkembangan pesantren pada skala global. Dalam ranah pengembangan pesantren, secara garis besar terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal mehputi sistem kepemimpinan kyai, sikap dan pandangan kyai, ustadz, santri, dan kondisi organisasi pesantren, sedangkan faktor eksternal terdiri dari, masyarakat sekitar pesantren, pemerintah, serta institusi-institusi modern lainnya. Adapun yang seringkali luput dari pengamatan kita adalah eksistensi kekuatan globalisasi.
Banyak orang yang mengakui, bahwa eksistensi pesantren yang merupakan agen perubahan (agent of change) bagi masyarakat dalam diskursus global diharapkan mampu menjadi struktur mediasi (mediating structurf) yang mampu memahami persoalan-persoalan yang muncul dalam masyarakat dan dapat menjembatani pemberdayaan masyarakat untuk mewujudkan cita-cita bersama membentuk civil society. Karena lembaga pendidikan inilah yang “ramah” dengan masyarakat, pada ranah sosial-budaya, ekonomi, lembaga ini juga mampu berperan sebagai lokomotif dan dinamisator dalam mengawal perubahan. Banyak pesantren di Indonesia yang sudah berperan seperti yang disebutkan di atas.

 

Daftar bacaan
– M. Imam Zamroni. 2005.Islam, Pesantren Dan Terorisme. Jurnal Pendidikan Agama Islam Vo1. ll. No. 2.
– Abdurrahman wahid, syafi’I ma’arif dan mustofa bisri. 2009. Ilusi Negara islam: ekspansi gerakan islam transnasional di Indonesia. The wahid institute dan maarif institute:Jakarta
– Hendrik Boby Hertanto.2012 .Masyarakat Multicultural Dan Multikulturalisme.

*Materi diskusi Forms NTB-Surakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s